Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juli 2014

Jasad dan Ruh Al-Quran

Al-Quran itu terdiri dari jasad dan ruh. Hal ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadisnya, “Lahu dzahrun wabathnun” (baginya (Alquran) mempunyai jasmani (zahir) dan ruhani (batin).” (Syarhussunnah).
Dalam kitab Fadhailul Amal, disebutkan sebagian ulama berpendapat yang dimaksud dengan jasad Alquran adalah merujuk pada kalimat-kalimat dalam Al-Quran yang dapat dibaca dengan baik oleh setiap orang. 

Sedangkan, batin (ruh) Alquran merujuk pada maksud-maksudnya, baik yang tersurat maupun tersirat, yang pemahamannya berbeda sesuai dengan kemampuan pembacanya. 

Di antara hikmah adanya jasad dan ruh Alquran ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa Al-Quran bukan sekadar kitab bacaan semata, melainkan merupakan kitab pedoman hidup yang harus dijadikan rujukan dalam bersikap dan beramal yang bisa diawali dengan membaca dan memahaminya. Info Militer Terupdate Ada disini

Oleh karena itu, Allah SWT menjadikan Alquran dengan menggunakan bahasa Arab, bukan hanya karena Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai orang Arab. Lebih daripada itu, bahasa Arab adalah bahasa yang mudah dipelajari dan dipahami setiap orang dari berbagai suku dan bangsa.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf [12]: 2). 

Selain itu, Allah SWT menjadikan Al-Quran sebagai sesuatu yang mudah dibaca, mudah untuk dipahami, dan mudah untuk dipelajari sehingga dapat memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkannya. 

Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qomar (54): 17)

Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Alquran, akan menjadikan kita mendapatkan ilmu yang luas dan mendalam.

Ibnu Masud berkata, “Jika kamu ingin memperoleh ilmu, hendaklah kamu memikirkan dan merenungkan makna-makna Al-Quran karena di dalamnya mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang sesudahnya.''


Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Al-Quran, kitab suci itu akan hidup dalam diri kita yang tergambar dari akhlak-akhlak keseharian kita. Inilah yang dibuktikan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok Alquran yang berjalan.

Hal ini ini dinyatakan oleh Aisyah RA ketika ia ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Beliau menjawab, “Budi pekerti Nabi SAW adalah Al-Quran.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

Sebagai seorang Muslim sudah selayaknya kita berupaya menghidupkan jasad dan ruh dari Alquran agar tidak hanya sebagai bacaan semata, lebih daripada itu dapat menjadi petunjuk bagi kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini.

Kini, kita berada pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini Rasulullah SAW selalu menghidupkannya dengan menyatukan jasad dan ruh Alquran. 

Dalam hadis riwayat Bukhari dinyatakan Rasulullah SAW memperbanyak membaca Al-Quran al-Karim pada Ramadhan dan Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk membacakan Alquran.

Untuk itu, mari kita upayakan untuk selalu membaca Alquran dengan sebaik-baiknya dan kita pahami maksudnya.

Lalu, berupaya untuk mengamalkannya sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW sehingga jasad dan ruh Al-Quran dapat kita amalkan dalam keseharian. Wallaahualam.
DVD Anak Sholeh FIlm Edukasi dan Pendidikan Akhlak Untuk Anak Muslim Indonesia Info Pemesanan Klik Disini

Selasa, 15 Juli 2014

Kenali Musa, Bocah Lima Tahun Yang Hafal 29 Juz Al-Quran!

Subhanallah....Bocah 5 tahun asal indonesia hafal Al-Quran 29 Juz
Bagi umat Islam, membaca dan mengamalkan kandungan dalam Al-Quran adalah sesuatu yang mulia. Apalagi jika dalam suasana bulan suci Ramadan seperti ini. Karena itulah banyak di antara kamu yang semenjak kecil sudah diajari mengaji oleh orangtuamu. Jika boleh ditanya, kapan terakhir kamu mengaji? Mungkin ada yang bilang kemarin, seminggu lalu, tiga bulan lalu, atau bahkan sepuluh tahun lalu. Terserah memang, karena membicarakan soal agama adalah sesuatu yang begitu sensitif dan menjadi penilaian masing-masing orang dengan Allah SWT langsung.

Mungkin jika demikian kamu harus mengetahui Musa. Namanya mendadak populer di dunia maya karena si Hafiz cilik yang masih belum genap berusia enam tahun ini sudah mengikuti kompetisi penghafal Al-Quran tingkat dunia di Jeddah, Arab Saudi. Dilansir dream.co.id, yuk ikuti sepak terjang si cilik Musa!

1. Usianya Belum Enam Tahun

Nama bocah bernama lengkap Abu Musa ini mendadak populer saat dia mengikuti program TV, Hafiz Indonesia. Sejatinya sebelum mengikuti acara tersebut, bocah asal Bangka Barat, Bangka Belitung ini sudah mengikuti beberapa lomba menghafal Al-Quran tingkat nasional.

Setelah meraih kemenangan demi kemenangan, Musa memberanikan diri ikut lomba menghafal Al-Quran tingkat internasional yang digelar di Arab Saudi. Menurut paman Musa, Abu Unaisah, ikutnya Musa dalam ajang dunia itu karena kerjasama TV penyelenggara Hafiz Indonesia dengan Kedubes Arab Saudi di Jakarta.

Mengapa harus Musa? Karena bocah yang belum genap berusia enam tahun ini begitu menyita perhatian saat mengikuti Hafiz Indonesia. Sungguh, mungkin saat anak berusia lima tahun asyik bernyanyi, Musa justru membawa nama baik Indonesia dan agamanya di tingkat dunia.

2. Belajar Mulai 2 Tahun

Bakat Musa menghafal Al-Quran memang sudah diasah sedari kecil. Di mana semenjak usia dua tahun, sang ayah, Hanafi, sudah memperkenalkan huruf-huruf Hijaiyah pada Musa. Huruf-huruf itu ditempel di dinding agar selalu diulang-ulang oleh Musa dan sampai dia hafal seluruh huruf.

Kini pelajaran itu sudah membuahkan hasil memuaskan. Selain hafal Al-Quran rupanya Musa si bocah yang belum genap enam tahun ini rajib melakukan ibadah di malam hari seperti salat sunah.

Jika kamu menilai masa anak-anaknya hilang, itu salah besar. Karena selepas subuh adalah waktu bagi Musa untuk bermain dengan teman-temannya. Hebatnya, di sela-sela itu dia masih sempat mengulang menghafal Al-Quran.

3. Hafal Dalam 30 Menit

Ketika tampil di acara Hafiz Indonesia, Musa sempat mengaku bahwa dia tinggal menghafal surat An-Nahl dan Bani Israil agar melengkapi kemampuannya hafal 30 Juz Al-Quran. Menurut paman Musa yang menemaninya berjuang di Arab Saudi, Abu Unais, Musa memang bocah luar biasa.

Daya ingat dan daya tangkap Musa memang mengagumkan. Dia mampu menghafal setengah lembar Al-Quran yang besar dalam waktu 30 menit. Tak heran, semenjak masih di kandungan, kedua orangtua Musa rajin mengaji agar kelak anak yang lahir yakni Musa akan menjadi sosok teladan yang begitu mengagumkan.

4. Buat Juri Menangis

Jika kamu mendapatkan kesempatan bertemu dengan Musa, maka yang terlihat adalah dia tak ubahnya bocah kecil biasa. Dia masih polos dan suka bermain dengan anak-anak seusianya. Namun Musa sangatlah istimewa, belum genap enam tahun dia memiliki kemampuan menghafal Al-Quran luar biasa.

Musa memang fasih melantunkan ayat suci yang mungkin bahkan kamu belum bisa melakukannya dengan sempurna. Bahkan semenjak tampil di program Hafiz Indonesia, Musa sudah membuat para dewan juri dan penonton kagum.

Awalnya banyak yang tak percaya bocah mungil ini bisa menghagal 29 Juz Al-Quran. Namun saat dites, dengan tenang Musa meneruskan bacaan itu dengan sempurna. Tak sekedar hafal, di usianya yang masih cocok bermain-main itu, Musa juga mampu melantunkan dengan tajwid yang pas. Tak heran aksi Musa mampu membuat beberapa orang menangis haru.

5. Peserta Termuda

Saat mengikuti lomba menghafal Al-Quran tingkat dunia di Arab Saudi, rupanya Musa menjadi bocah termuda yang mengikuti ajang tersebut. Dalam lomba yang digelar semenjak Selasa (1/7) - Kamis (3/7) silam, Musa adalah peserta terkecil.

Memang ada peserta lain yang berumur 10 tahun dan 12 tahun, tetapi prestasi Musa luar biasa. Mengikuti ajang internasional untuk kali pertama sebagai peserta termuda, Musa mampu ada di peringkat ke-12 dari 25 peserta yang ikut tampil di Jeddah. Bahkan Musa mendapatkan nilai Mumtaz karena Musa meraih 90,83 poin dari 100 nilai sempurna. 

6. Anak Petani Sederhana

Kesederhanaan adalah hal yang tertangkap dari Musa. Besar di daerah yang jauh dari ibukota yakni di Bangka Barat, Bangka Belitung, membuat Musa tumbuh menjadi bocah bersahaja yang taat agama. Semenjak kecil memang orangtua Musa sudah mengajarkan pendalaman agama bagi dirinya.

Meskipun memang Musa pernah merasa bosan belajar Al-Quran saat berusia 3,5 tahun, sang ayah, Hanafi tidak menyerah. Kendati Musa sempat menangis, Hanafi tetap percaya bahwa agama akan menjadi landasan kuat untuk kehidupan Musa ke depannya. Karena itu Hanafi sampai meminta bantuan seorang penghafal Al-Quran bernama Sabilar Rosyad.

Tahukah kamu kalau rupanya Musa adalah anak seorang petani? Yap, di sela kesederhanaan hidup mereka, secara bersahaja mereka mengingatkan semua orang bahwa kekuatan terbesar di dunia ini adalah Allah SWT dan sudah menjadi tugas umat-Nya untuk bersyukur dan senantiasa memuja nama-Nya. (dre/aia)

Berikan tontonan yang baik agar kelak si buah hati menjadi anak yang sholeh dan taat kepada Allah dan rasulnya...Baca selengkapnya disini

Minggu, 13 Juli 2014

( NUZULUL AL-QUR'AN ) HAKIKAT MENYEMBAH ALLAH SWT DENGAN MENTAATI PETUNJUKNYA

Turunnya Al-Qur'an adalah cahaya penerang kehidupan bagi seluruh manusia yang yakin dan beriman serta mengamalkan tuntunan-Nya. Kehidupan Allah yang sediakan, maka Allah tidak lalai menurunkan segenap aturan yang menyentuh kehidupan seluruh manusia. Turun-Nya Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia sebagai hakikat penyembahan kita kepada-Nya. Dan maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Allah SWT berfirman : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya (ulama bani israil) dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allahdan juga mereka menjadikan Rabb al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanyalah disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan “. (QS : At-Taubah : 31)

Dan dalam hadits shahabat Adi bin Hatim – sebuah hadits panjang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan lain-lain – ia datang kepada Nabi sedang ssaat itu ia masih Nasrani. Ia mendengar Nabi membaca ayat ini, maka ia membantah.”Kami tidak beribadah kepada para pendeta dan tukang ibadah kami”. Nabi menjawab, “Bukankah para pendeta dan tukang ibadah mengharamkan yang halal, maka kalian ikut-ikutan mengharamkannya dan mereka menghalalkan yang haram, maka kalian ikut-ikutan menghalalkannya?”. Adi menjawab, “Ya. Memang begitu. “Beliau bersabda, “Itulah bentuk ibadah kepada pendeta”.

Demikian juga Abu Bakhtari berkata, “Mereka itu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) tidak sholat kepada para pendeta dan ahli ibadah mereka. Kalau para pendeta dan ahli ibadah itu memerintahkan mereka untuk beribadah kepada para pendeta ahli ibadah mereka tentulah mereka tidak akan mentaati perintah itu. Namun, para pendeta dan ahli ibadah itu memerintah, mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram lalu orang-orang Yahudi dan Nasrani mentaatinya. Ini adalah rububiyah sempurna (mengangkat pendeta menjadi tuhan-tuhan baru mereka).

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy Syura: 10)

Hakikatnya manusia wajib mengikuti tuntunan Al Qur'an dan Sunnah pada segenap aspek kehidupan, jalan kesana dimulai dengan kecintaan kita menuntut ilmu Agama agar kehidupan kita dapat terarah dijalan-Nya melalui pengetahuan tentang Petunjuk Allah sebenarnya.

Nabi menerangkan ibadah mereka kepada para pendeta dan ahli ibadah adalah dengan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, bukannya mereka itu sholat, shoum dan berdoa kepada para pendeta. Inilah makna beribadah kepada para tokoh. Allah tetah menyebutkan hal ini sebagai sebuah kesyirikan dengan firman-Nya : “Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Dia (Allah). Maha Suci Allah dari kesyirikan mereka”.

Dalam Ramadhan ini marilah perbanyak mengaji dan mengkaji Al-Qur'an dan Sunnah, sirah para shahabat Rosulullah SAW dimana mereka sebagai tauladan pada Umat Islam dalam beragama, paling baik mengikuti Rosulullah SAW. Biasakan mengikuti tuntunan Kitabullah karena sebagai wujud ketaatan kita sebagai hamba-Nya. Semoga Allah mudahkan kita menerima ilmu, dan dapat mengamalkannya sebagai amal shaleh, Aamiin.

DVD Anak Sholeh Edukasi Akhlak, Sejarah Nabi dan Rasul Klik Disini

Kamis, 12 Juni 2014

Hot News: Wujudkan Indonesia Tanpa Buta Huruf Al-Qur'an

Jadikan Al-Qur'an sebagai temanmu di dunia ini
Agar kelak ia menjadi penolongmu di akhirat

HOT NEWS 

Belajar Al-Qur’an untuk semua kalangan….
Bersama Lembaga Tuntas Buta Aksara Al-Quran (Tuuba) Indonesia…..
Yuks, Wujudkan Indonesia tanpa buta huruf Al-Quran…..
Untuk Private, Perkantoran, Masjid, Majelis Ta’lim Dsb…..
Dibimbing oleh Asatidz yang hafal Al-Quran serta mendapatkan ijazah Al-Quran Sehingga bacaan Al-Qur’an mereka terpercaya sesuai bacaan yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw…..

Kami hadir guna membantu anda belajar Al-Quran sehingga mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an dari nol sampai mahir….
Telah terbukti banyak dari mereka yang awalnya takut dan malu belajar Al-Quran, tapi sekarang sudah mampu membaca di depan umum (teman-teman dan saudaranya)….

Bukan suatu kemustahilan jika anda bergabung bersama kami baik belajar secara private, dengan teman-teman kantor, majelis ta’lim dsb….

Bergabunglah bersama kami untuk meraih kemulian mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an selama Allah Swt masih memberikan anda kemurahan rejeki, umur yang panjang dan sehat jasmani dan rohani….


Jika berkenan hubungi di 0857 7619 8625 (Khusus daerah DKI Jakarta dan Sekitarnya) SMS, Whatsapp dan Telpon. Semoga Allah Swt selalu mencurahkan rahmatNya dan ma’unahNya kepada kita semua. Aamiiin….


Rabu, 11 Juni 2014

APA HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Pertanyaan: 
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah hukum membaca Al-Qur’an, wajib atau sunnah, karena kami sering ditanya tentang hukumnya. Di antara kami ada yang mengatakan bahwa hukumnya tidak wajib, bila membacanya tidak mengapa dan jika tidak membacanya tidak apa-apa. Bila pernyataan itu benar tentu banyak orang yang meninggalkan Al-Qur’an, maka apa hukum meninggalkannya dan apa pula hukum membacanya ?

Jawaban.
Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga terlipah kepada RasulNya, keluarga dan shabatnya, wa ba’du.

Yang disyariatkan sebagai hak bagi orang Islam adalah selalu menjaga untuk membaca Al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan sebagai pelaksanaan atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)” [Al-Ankabut : 45]

Dan firmanNya.

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)” [Al-Kahfi : 27]

Juga firmanNya tentang nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri. Dan supaya aku membaca Al-Qur’an (kepada manusia)” [An-Naml : 91-92]

Dan karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat” [1]

Seharusnya seorang muslim itu menjauhi dari meninggalkannya dan dari memutuskan hubungan dengannya, walau dengan cara apapun bentuk meninggalkan itu yang telah disebutkan oleh para ulama dalam menafsirkan makna hajrul Qur’an. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsinya (Tafsir Ibnu Katsir 6/117) : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memberi khabar tentang Rasul dan NabiNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata.

“Artinya : Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan” [Al-Furqan : 30]

Itu karena orang-orang musyrik tidak mau diam memperhatikan dan mendengarkan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang kafir berkata,’Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya” [Fushishilat : 26]

Bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka membuat gaduh, hiruk pikuk dan perkataan-perkataan lain sehingga tidak mendengarnya, ini termasuk makna hujran Al-Qur’an. Tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkannya termasuk makna hujran. Tidak men-tadabburi dan tidak berusaha memahaminya termasuk hujran. Tidak mengamalkannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangan-larangan termasuk makna hujran. Berpaling darinya kepada hal lain, baik berupa sya’ir, percakapan, permainan, pembicaraan atau tuntunan yang diambil dari selain Al-Qur’an, semua itu termasuk makna hujran.

Wabillah at-taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq]

Rabu, 23 April 2014

Hidup briliant dengan Al-Qur’an

Oleh: Muhammad

Merasa takjub tatkala mendengar ada orang yang hafal Al-Qur’an tinggal disekitar rumah kita. Takjub karena mereka mampu melakukan sesuatu yang dirasa sukar oleh banyak orang, mungkin juga kita salahsatu yang merasa demikian. Semestinya, setiap muslim mempunyai kewajiban yang sama terhadap Al-Qur’an yaitu menghafal dan menjaganya dalam sanubarinya sehingga setiap perilaku, gerak-gerik dan sebagainya akan mencerminkan akhlak Al-Qur’an yaitu seseorang yang bergelar Haamilul Qur’an (Pengemban/pembawa Al-Qur’an).

Untuk menjadi sosok Haamilul Qur’an ini sungguh berat karena banyak sekali cobaannya. Tetapi tidak sedikit juga yang ternyata mampu meraih maqam (kedudukan tinggi disisi Tuhannya melalui jalan ini yaitu jalan menghafal dan melaksanakan isi kandungan Al-Qur’an. Untuk tahapan pertama menuju Haamilul Qur’an hendaknya kita berupaya memperbaiki bacaan Al-Qur’an serta menghafalkan ayat-ayatnya karena dalam salahsatu sabda Nabi Saw “Siapa yang tidak mempunyai bacaan Al-Qur’an dalam dirinya, maka seperti kuburan (Sepi dan angker)”. Memperbaiki bacaan sangat dianjurkan sesuai dengan firman Allah Swt“Dan bacalah Al-Qur’an secara tartil” yaitu jelas tajwid dan tidak merubah maknanya. Tahapan kedua yang harus dilalui yaitu menghafal Al-Qur’an. Karena bacaan yang baik saja belum tentu bermanfaat jika tidak mempunyai hafalan yang otomatis akan diulang setiap saat baik diulang secara Tahqiq (Pelan), Tadwir(Sedang) ataupun Hadr (cepat) tetapi tetap dalam bingkai tartil Jelas tajwid dan maknanya.

Banyak orang yang awalnya merasa ketakutan terhadap orang atau sesuatu tetapi setelah menghafal Al-Qur’an ketakutan itu hilang begitu saja. Begitu juga dengan anak-anak yang senantiasa rajin belajar Al-Qur’an dan menghafal beberapa juz pasti prestasi anak tersebut semakin hari semakin meningkat tajam. Memang masih sangat sedikit pakar yang menjelaskan kaitan antara Al-Qur’an dan perasaan takut atau kaitan menghafal Al-Qur’an terhadap peningkatan IQ seseorang. Berikut beberapa penjelasan ahli terkait hal tersebut diatas: 

Menurut  para ahli neurolog terdpt 100 milyar - 1 trilyun jaringan syaraf  yang ada di kepala setiap orang yang dapat membuat manusia bisa melakukan banyak hal. Membaca, melihat, meneliti, merasa, koordinasi, keseimbangan, menghafal dan sebagainya.  Bahkan ada seorang ahli yang berkata bahwa manusia memiliki sebuah super komputer di kepalanya. Ya, Super komputer bernama otak ini kemampuannya ribuan kali dr super komputer yg pernah ada di dunia dengan daya tampung memory yang tak terbatas. Wow… Amazing! Tapi semua anugerah Allah SWT ini tergantung dari manusia yang menggunakannya.  Apakah maksimal dipergunakan atau dibiarkan percuma?  Saat kita hendak pindahkan ke memory computer  rupanya tidak lebih dari 1 Gigabyte saja.  Tidak perlu super komputer untuk menampung memory 30 juz Alquran! kesimpulannya bahwa ..., andai manusia memasukkan seluruh ayat Al-Qur’an ke dalam memory-nya. Pastilah itu hanya menyita sebuah ruang data yang amat kecil di kepalanya. Buktikanlah sobat! Ini hanya perkara antara mau dan tidak saja. Namun berimplikasi hebat di dunia dan akhirat. Percayalah! Cara Mudah Menghafal Al-Qur'an Baca Selengkapnya Disini.

Diadopsi Dari Berbagai Sumber
Menghafal Al-Qur’an Semudah Tersenyum


Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 18 April 2014 versi PDF disini
Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 25 April 2014 versi PDF disini

Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 2 Mei 2014 versi PDF disini
Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 9 Mei 2014 versi PDF disini



Minggu, 06 April 2014

Bagaimana Hukum Shalat di belakang imam yang tidak fasih bacaan Al-Qur'annya???

Sangat Indah dan nikmat bila kita bisa menjadi makmum di belakang imam yang shalih dan baik bacaan Al-Qurannya, terlebih kalau dia hafal Al-Quran, sehingga kita ikut hanyut dalam merasakan nikmatnya shalat dengan bacaan Al-Quran yang menggugah dan menyentuh hati. Namun tidak sedikit kita temui imam shalat baik di masjid atau mushalla belum mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar.


Berikut kami paparkan beberapa pandangan ulama terkait hukum shalat di belakang imam yang belum fasih bacaan Al-Qurannya:
Tidak fasih baca Al-Fatihah

Para ulama menjelaskan bahwa tidak sah shalat di belakang imam atau bermakmun dengan imam yang tidak fasih dengan merubah atau mengganti huruf ke huruf lainnya dari surat Al-Fatihah. Atau si imam tadi salah membaca harakat atau baris seperti yang seharusnya fathah dibaca dhammah atau sebaliknya dan semisalnya; maka orang ini tidak boleh menjadi imam dan orang yang menjadi makmumnya juga shalatnya tidak sah. Namun ketika yang menjadi makmun adalah orang yang kemampuan baca Al-fatihahnya sama dengan dia atau lebih buruk darinya maka shalatnya sah.

Apa bila dia menjadi imam bagi orang yang lebih fasih bacaan Al-Fatihahnya maka makmum tersebut tidak sah shalatnya, karena dia telah bermakmum di belakang imam yang tidak fasih membaca Al-Fatihah. Namun kalau si imam fasih bacaan Al-Fatihahnya dan tidak fasih membaca selain Al-Fatihah; maka shalatnya sah demikian juga dengan orang yang bermakmum di belakangnya, karena setelah membaca Al-Fatihah boleh atau sah shalat orang yang tidak membaca surat atau ayat Al-Quran.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Jika kesalahannya merubah makna maka sah shalatnya dan orang yang shalat bermakmum di belakangnya, karena meninggalkan bacaan surat (selain Al-Fatihah) tidak membatalkan shalat dan tidak ada larangan bermakmum dengannya”.

Yang paling berhak menjadi imam

Jika di suatu masjid atau mushalla telah ditentukan seorang imam rawatib, maka yang paling berhak menjadi imam adalah imam rawatib tersebut. Dan orang lain tidak boleh mendahuluinya menjadi imam shalat di tempat terebut kecuali atas izin imam rawatib.

Ibnu Umar RA pernah singgah di sebuah lahan tanah miliknya dan ada sebuah masjid disebelahnya, di masjid tersebut bekas budaknya biasa shalat di sana. Saat shalat tiba jamaah di sama memintanya untuk menjadi imam. Lalu Ibnu Umar berkata: “shahibul masjid lebih berhak”.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Imam masjid lebih berhak menjadi imam”. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya penghuni rumah dan majelis lebih berhak, dan imam masjid lebih berhak dari orang lain”.

Orang yang paling fasih

Selain itu hendaknya yang ditunjuk menjadi imam adalah orang yang paling fasih bacaan Al-Qurannya, selain dia juga memahami fiqih shalat secara baik. Karenanya seorang imam rawatib hendaknya telah memiliki kemampuan membaca Al-Quran yang baik, fasih dan shalih.

“يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله…”.

“Orang yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling fasih membaca kitabullah…”.  

Yang dimaksud dengan “Aqra’uhum” dalam hadits ini tidak hanya sekedar baik dan fasih bacaan Al-Qurannya namu lebih dari itu, yang lebih utama lagi dia telah hafal Al-Quran.  Sepertinya pada kisah ‘Amr bin Salamah saatfathu makkah , dia memiliki banyak hafalan Al-Quran yang baik seakan melekat dalam dadanya. Dan suatu hari saat akan melaksakan shalat ‘Amr bin Salamh ditunjuk menjadi imam, karena beliau orang yang paling banyak hafalannya, padahal umurnya sekita enam atau tujuh tahun.saat itu  tentu beliau sudah matang dan dianggap layak menjadi imam.

Kewajiban Belajar Al-Quran

Allah SWT memerintahkan kita agar membaca Al-Quran dengan tartil, baik dan benar secara tajwid.

ورتل القرءان ترتيلا

“Dan bacalah Al-Quran dengan tartil”. (QS. Al-Muzzammil: 4)

Ali bin Abi Thalib RA mengatakan:

الترتيل هو تجويد الحروف ومعرفة الوقوف

“Tartil adalah membaca huruf dengan baik dan mengenal waqaf”.

Mari sejenak kita memperhatikan ungkapan Imam Ibnu Jazari rahimahullah berikut:

والأخذ بالتجويد حتم لازم       من لم يجود القرآن آثـم

لأنــه بـه الإلـه أنزلا        وهكذا منه إليـنا وصلا

Membaca Al-Quran dengan tajwid hukumnya wajib

Siapa yang tidak mentajwidkan Al-Quran dia berdosa

Karena sesungguhnya Allah menurunkannya dengan tajwid

Dan demikianlah dari-Nya Al-Quran sampai kepada kita

Jadi hendaknya kita terus berusaha dan bersungguh-sungguh belajar Al-Quran yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Belajar di lembaga Al-Quran, di masjid atau mushalla atau belajar dari guru yang memiliki kapasitas yang baik di bidang Al-Quran.

Semoga bermanfaat. Amiin Ya Allah Ya Rabbal 'Alamiin.

Jumat, 04 April 2014

Keutamaan Menghafal Al Qur'an, Dicintai Allah Swt dan RasulNya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam

Al-Qur'an merupakan kitab yang sangat mulia dan diturunkan dengan penuh keberkahan didalamnya. Banyak sekali hadits yang mendorong kita untuk menghafalnya serta menjelaskan keutamaan menghafal Al-Qur'an, baik keutamaan di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah Saw sendiri, mengutamakan orang-orang yang membacanya serta menghafalnya dan memberitahukan kelebihan ini kepada sahabat-sahabat yang lainnya. 

Pernah suatu ketika Rasulullah Saw mengutus utusan yang terdiri dari beberapa orang, kemudian Rasulullah Saw mengecek bacaan dan hafalan Al-Qur'an mereka satu persatu. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah Saw : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai fulan?” ia menjawab: aku telah hafal surah ini dan surah ini, serta  surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau hafal surah Al Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah Saw bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang  dari kalangan mereka yang terhormat berkata:  Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al Baqarah semata karena  aku takut tidak dapat menjalankan isinya. 

Mendengar komentar itu, Rasulullah Saw bersabda: "Pelajarilah Al Qur'an dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al  Qur'an dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan  minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Qur'an— adalah seperti  tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik".

Jika yang telah kami jelaskan diatas merupakan kedudukan para penghafal Al Qur'an ketika masih hidup, lalu apa balasan mereka setelah mereka mati? Saat matipun Rasulullah Saw tetap mengutamakan mereka para penghafal Al Qur'an dibandingkan yang lainnya. Sehingga pada saat hendak dikebumikan beliau selalu menanyakan mana diantara mereka yang mati syahid ini yang paling banyak hafalannya. kemudian Rasulullah mendahulukannya dibandingkan yang lainnya. Subhanallah, begitulah kelebihan para penghafal Al Qur'an yang sangat disayangi dan diutamakan oleh Rasulullah Saw.

Pernah Rasulullah Saw mengutus kepada kabilah-kabilah para penghafal Al Qur'an dari kalangan sahabat beliau, untuk mengajarkan mereka faridhah Islam dan akhlaknya, karena dengan hafalan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas tersebut. Di antara sahabat itu ada tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yang  terkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.  

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Penghafal Al Qur'an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Qur'an akan berkata:  Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Qur'an kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian  Al Qur'an memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah Swt meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu:  bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah Swt  menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan".

Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghafal dan ahli Al Qur'an saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Qur'an.  Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca Al Qur'an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran”.

Kedua orang itu mendapatkan kemuliaan  Tuhan, karena keduanya berjasa mengarahkan anaknya untuk menghafal dan mempelajari Al Qur'an semenjak kecil. Dan dalam hadits terdapat dorongan bagi para bapak dan ibu untuk mengarahkan anak-anak mereka untuk menghafal Al Qur'an  semenjak kecil. 
****

Rabu, 02 April 2014

Cara Al-Qur'an memberikan sinyal keburukan dan kebaikan


Ketika membaca Al-Qur'an seringkali kita menemui beberapa kesukaran dalam pengucapannya. Bisa jadi kesulitan dan kesukaran pengucapan itu merupakan suatu bentuk sinyal yang diberikan Allah Swt agar kita mampu menjauhi kejahatan dan memberikan efek ketika kita membaca Al-Qur'an meskipun kita belum paham bahasa Arab. Kita juga sering menjumpai kata-kata bila diucapkan akan mudah hanya butuh sekali ucap langsung benar. Kemungkinan kata yang mudah diucapkan tersebut mempunyai makna kebenaran dan begitulah caranya Allah memberikan sinyal kepada hambaNya agar kita mampu mengenal kebaikan dan keburukan meskipun belum paham bahasa Arab.

Jangan diabaikan begitu saja kemudahan dan kesulitan pengucapan kata-kata tersebut. Seharusnya kita malah bertanya "Apa tujuan dari semua itu?". Jelas, penurunan Al-Qur'an bertujuan untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia agar kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah, agar manusia tahu mana makan yang baik baginya dan mana juga makanan yang membawa efek negatif dan berbahaya bagi manusia.

Al-Qur'an telah banyak memberikan sinyal kepada manusia yang dapat dirasakan oleh siapasaja meskipun yang membacanya belum paham bahasa Arab. 

Silahkan anda coba ucapkan kata :

1. شَرِّ-شَرُّ- شَرِّالْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ Coba Ucapkan kata tersebut, dan rasakan apakah kata dan kalimat tersebut mudah diucapkan atau susah? Menurut penelitian yang telah kami lakukan kebanyakan orang mengaku kesulitan mengucapkan kata شَرِّ. Kata "شَرِّ" Tersebut berarti "Kejahatan". 

2. Coba anda ucapkan kata خَيْرٌ lalu rasakan, apakah kata tersebut mudah diucapkan atau susah? Menurut penelitian yang telah kami lakukan kebanyakan orang mengaku mudah ketika mengucapkan kata خَيْرٌ. Kata " خَيْرٌ" Tersebut berarti "Baik Atau kebaikan". 

Begitulah bentuk sinyal yang diberikan Allah Swt kepada orang yang senantiasa membaca Al-Qur'an sebagai bentuk kasih sayang Allah Swt kepada hamba-hambaNya yang beriman. Jangan Abaikan bentuk perhatian dan kasih sayang Allah tersebut sehingga kita akan tetap terjaga dari segala keburukan.

BACA DAN RASAKAN AL-QUR'AN....
PERLAHAN-LAHAN, ANDA AKAN MAMPU MENGINSPIRASIKAN ORANG LAIN DENGAN BACAAN AL-QUR'AN ITU.....

BACALAH AL-QUR'AN, PAHAMI DAN RASAKAN MAKNANYA......
AGAR ORANG YANG MENDENGAR BACAAN ANDA BISA TERSENTUH KALBUNYA.....

LET'S READ AL-QUR'AN!!!