Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juni 2014

Sukses Menghadapi Ujian Hidup

Allah Mahabaik. Semua yang diciptakan-Nya, selalu diberikan pasangan. Jika ujian adalah salah satu makhluk-Nya, maka sudah barang tentu bahwa Dia telah menyertakan solusinya. Sebagaimana sebuah penyakit, pasti sudah disertakan obatnya oleh Sang Pencipta penyakit. Sehingga, sebagai manusia, kita hanya perlu belajar dan menemukan formula yang tepat untuk semua jenis ujian yang sudah pasti akan ditimpakan kepada kita, hingga ajal menjemput diri.

Pertama, sadari bahwa ujian adalah keniscayaan.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar . (al-Baqarah [2]: 155)

Dengan adanya pemahaman yang baik tentang keniscayaan ujian ini, maka kita bisa bersikap bijak jika suatu ketika ujian itu benar-benar datang menghampiri kehidupan kita yang sedianya damai dan menentramkan.

Kesadaran ini juga akan membuat diri lebih waspada. Semakin sadar untuk mempersiapkan solusi. Juga, rajin menuntut ilmu untuk menyikapi segala kemungkinan ujian yang akan Allah berikan.

Dua, gunakan keimanan sebagai solusi sejati. Rasul pernah berkata, “Sungguh ajaib keberadaan orang beriman. Jika diberi nikmat, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika diberi ujian, dia bersabar, dan itu baik pula baginya.”

Jika perkataan seorang Presiden saja –misalnya- sangat kita hormati dan dipegang teguh sebagai rujukan, maka perkataan seorang nabi jauh lebih layak untuk dirujuk, diingat-ingat dan dijadikan sebagai pedoman hidup. Apalagi, Rasulullah tak pernah sekalipun berbohong. Bahkan, setelah ilmu sedemikian maju, semua perkataan beliau bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya.

Jika kita bersabar terhadap ujian yang diberikan, maka janji Allah sudah sangat pasti kejelasannya,“Mereka (orang-orang sabar) itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah [2]: 157)

Tiga, minta tolong kepada Allah. Ujian yang diberikan, sejatinya adalah sebuah sarana agar kita semakin mendekat pada-Nya. Karena memang, Dialah zat Yang seharusnya kita dekati di sepanjang usia kehidupan kita. Allah yang memberikan ujian, sudah melengkapinya dengan banyak tools pertolongan yang bisa kita gunakan setiap saat, sesering mungkin.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. (al-Baqarah [2]: 153)

Sungguh, tidak ada yang lebih baik dari meminta tolong kepada Allah, dan menjadikan sabar dan shalat sebagai tools agar kita mendapat pertolongan dari-Nya. Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.

Empat, Allah bersama anda. Sabar ketika mendapati ujian bukan bermakna pasif. Tapi aktif mencari solusi dengan berbekal ilmu yang tepat. Sering bertanya kepad ahlinya, membuka semua peluang solusi yang mungkin dan juga menyiapkan opsi-opsi lain jika langkah pertama gagal.

Jika kita berhasil mengeja sabar, maka itulah jalan terbaik yang memang harus kita lalui. Selain itu, sabar membuat pelakunya menjadi salah satu hamba kesayangan Allah. Apakah ada yang lebih baik bagi seorang hamba selain disayangi Sang Pencipta?
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah [2]: 153)

Allah mencintai siapa saja yang sabar. Sehingga, Dia menyertai golongan-golongan itu.

Lima, ilmui setiap laku. Langkah teknis tak boleh ditinggalkan. Karena durian runtuh, sangat jarang adanya. Hujan duit juga menjadi sesuatu yang mustahil jika diri hanya berongkang-kaki di dalam rumah, tanpa melakukan upaya apapun. Sesering mungkin mendekatkan diri kepada Allah itu sangat baik, tapi akan jauh lebih baik jika disertai dengan upaya keras untuk menjemput turunnya pertolongan Allah.

Mengilmui adalah upaya agar ujian menjadi tantangan. Agar prahara menjadi anugrah. Agar kita tak salah langkah. Karena kebodohan adalah pangkal keterjerumusan.

Rajin-rajinlah membaca buku, berdiskusi dengan pakar, sering mengunjungi orang shaleh, jangan malu bertanya, dekati mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidupnya. Banyak berdiskusi dengan orang yang tepat adalah hal-hal yang bisa membuat diri tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kenali diri dengan baik. Fahami kelebihan dan kekurangannya. Karena biasanya, ujian diberikan bersesuaian dengan letak kekurangan seseorang. Dengan mengetahui kekurangan diri, seseorang bisa melakukan tindakan-tindakan antisipatif. Ini juga bisa membuat seseorang menghindari dan menjauhkan segala sebab yang mungkin mengantarkannya pada kesalahan dalam menyikapi ujian yang diberikan.

Misalnya seseorang yang lemah dalam pengelolaan uang. Maka, sebisa mungkin, untuk tidak menerima amanah dari keluarga, organisasi, atau instansi tempat bekerja yang terkait dengan pengelolaan dan pengaturan uang.

Atau, misalnya seorang pemuda yang labil dalam masalah syahwat. Maka, seiring diri menyiapkan untuk mampu menikah, minimalisir setiap penyebab yang mungkin menggoda. Mulai dari menahan pandangan, bergaul dengan orang shaleh, mencari lingkungan yang baik, sibukkan dengan amal shaleh dan hindari ketersendirian. Karena, ketika sendiri, setan akan lebih mudah menggoda.

Enam, anda tidak sendiri. Seringkali, ujian berat terasa begitu menyesakkan. Dalam tahap ini, ketika salah menyikapi, mungkin saja seseorang akan menyalahkan Allah. Bahwa Dia tidak adil, dholim dan sejenisnya. Padahal Allah sangat tidak mungkin memiliki sifat itu semua.

Hal ini pula yang pernah terjadi di zaman Rasulullah. Ketika banyak orang beriman Makkah yang disiksa oleh kafir quraisy. Para sahabat datang kepada Rasul dan berkata, “Dimanakah pertolongan Allah?” Lalu dengan air muka sumringah yang meneduhkan, manusia mulia itu berkata, penuh makna, “Apa yang kita alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan umat terdahulu. Ada diantara mereka yang dikubur hidup-hidup, disiksa dengan ditusuk dari duburnya, disisir menggunakan besi dan dikuliti layaknya hewan sembelihan.”

Menyeksami riwayat ini, pantaskan kita mengatakan, “Allah dimana?” Padahal kita hanya diuji dengan urusan dunia yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (al-Baqarah [2]: 250)[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com 


DVD ANAK SHOLEH FILM EDUKASI ANAK MUSLIM INDONESIAORDER SEKARANG JUGA SELAMA MASA PROMO

Kehidupanku Bersama Lalai

Lalai merupakan kondisi di mana seseorang menunda-nunda kewajibannya, baik yang menyangkut dalam hal dunia maupun akhirat tanpa udzur yang jelas (syar’i). Lalai tersebut bisa dalam bentuk menjalankan aktifitas sehari-hari maupun dalam beribadah kepada Tuhannya. Lalai dengan sengaja sangat merugikan bagi kehidupan seseorang. Tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga bisa merugikan orang lain.

Di saat kelalaian dan kesesatan melanda umat manusia, Allah Subhaanahu wa Ta’ala selalu mengutus seseorang untuk memberi petunjuk kepada mereka supaya kembali ke jalan yang benar mematuhi segalan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (QS. Al-Baqarah: 268).

Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan salah satu utusan-Nya. Yang di dalam hatinya selalu aktif untuk ikut andil dalam berdakwah dan melakukan perubahan kepada umatnya menuju kebaikan. Tidak henti-hentinya beliau berdakwah, walau hambatan dan rintangan selalu menghiasi hidupnya.

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’araa:3).

Bila diperhatikan, banyak diantara kita yang lebih mementingkan kehidupan duniawinya saja. Bekerja dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang mungkin pula ada yang sampai pagi lagi. Sedangkan ibadah dilakukan seadanya saja. Ini merupakan salah satu tindak kelalaian yang melanda umat manusia. Begitu pula bila kehidupan hanya dihiasi dengan beribadah saja, tanpa memerhatikan keadaan sekitar, ini pun juga tidak benar.

Kita harus cerdas dalam membagi waktu. Agar semua ruang lingkup kehidupan dapat diakses dengan baik dan mudah. Kita bisa berpartisipasi menjalani aktifitas maupun berhubungan langsung dengan Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Lalai bisa terjadi bila diri malas dalam mengerjakan sesuatu sehingga setiap pekerjaan yang ada justru selalu menumpuk dan tidak kunjung selesai. Setiap manusia adalah pemimpin, maka dari itu, manusia yang baik adalah bermanfaat kepada sesama dan tidak melalaikan tugas. Bagaimana bisa menjadi seorang pemimpin berkualitas, bila di dalam dirinya masih tersimpan rasa malas dan lalai.

“Bersemangatlah dalam hal-hal yang akan memberikan kemanfaatan kepadamu! Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menyerah. Jika kamu terkena satu musibah janganlah kamu berkata, ‘Jika tadi saya melakukan yang lain, maka akan terjadi hal yang lain pula.’ Akan tetapi, katakanlah,’Semua ini adalah kekuasaan Allah. Apa yang dia kehendaki, Dia kerjakan.’ Sesungguhnya kata ”jika/seandainya”, bisa menjadi pintu masuk setan (untuk menggoda kalian).”

Diantara bentuk ibadah atau ketaatan yang acap kali terlupakan dan tidak mendapat banyak perhatian adalah berpikir dan merenung. Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam menciptakan segala sesuatu tentu tidaklah sia-sia. Untuk itu, sebaiknya manusia mampu berpikir, siapa yang menciptakan, bagaimana ia diciptakan, untuk apa ia diciptakan, dan seterusnya. Berpikir tentang siapa yang menciptakan dan diri sendiri adalah hal yang utama.

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu (susunan tubuh)-mu seimbang dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS: Al-Infithaar:6-8).

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk lain). Maka Mahasucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS: Al-Mu’minuun:12-14).

Jika manusia dapat berpikir kepada hal-hal positif, misalkan tentang alam semesta yang sangat luas, berpikir tentang kematian dan alam akhirat, tentang Al-Qur’an, nilai dunia dan akhirat, nikmat yang telah diberikan Allah subhaanahu wa ta’ala, fenomena alam, kebesaran Allah Yang Maha Esa, hal positif lainnya, maka kelalaian, kesesatan maupun bentuk keburukan lain, bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Perkara ini memang bukanlah hal yang mudah untuk dikendalikan. Terlebih, bila sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang terus saja mengganggu. Tidak dapat dipungkiri, manusia yang memiliki sifat lalai, kurang memiliki kedisiplinan dalam hidup, kurang memahami hakikat tauhid dalam agama dan tidak terjalinnya keharmonisan dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Allah subhaanahu wa ta’ala merahasiakan masa depan setiap manusia, itu menandakan agar kita bisa berprasangka baik, merencanakan yang terbaik, berusaha yang terbaik, dan selalu bersyukur serta bersabar atas apa yang dilakukan dan diraihnya ke depan. Kelalaian dengan tidak melakukan hal yang bermanfaat, bisa mengikis semua impian tersebut. Kerja keras memang dibutuhkan agar bisa mewujudkan hakikat kehidupan yang lebih baik dan.

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian mempunyai ilmu maka gunakanlah secara maksimal ilmu kalian itu. Dan sesungguhnya kalian mempunyai masa akhir, maka berjalanlah menuju akhir masa kalian. Sesungguhnya seorang mukmin berada dalam dua kekhawatiran: Apakah yang diputuskan oleh Allah atas (amal perbuatan yang dilakukan pada) masa yang telah lewat? Dan apakah yang akan ditetapkan oleh Allah kepadanya pada masa yang masih tersisa. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mempersiapkan dirinya dengan berbagai bekal di dunia ini untuk kebaikannya di akhirat nanti. Hendaklah ia menyiapkan diri pada waktu mudanya sebelum datang masa tua dan di saat sedang sehat sebelum datang waktu sakit. Sesungguhnya kalian diciptakan adalah untuk kehidupan akhirat. Adapun dunia diciptakan untuk (keperluan) kalian. Demi Zat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, setelah kematian tidak ada (manfaatnya) orang yang mencela dan seteah kehidupan dunia tidak ada tempat bersinggah, melainkan surga dan neraka. Saya memohon ampun kepada Allah swt. semoga dosa-dosa kita diampuni-Nya.” (HR. al-Baihaqi dalam “Syu’abul-limaan,”Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah dari al-Hasan al-Basri, dan ad-Dailamy dalam al-Firdaus).

Sangat disayangkan, bila ilmu yang kita miliki tidak digunakan dengan baik. Melainkan, diramu dengan kelalaian dan kemaksiatan dengan menghalalkan segala cara Dalam memanajamen waktu, memang tidak mudah, maka dari itu, keutamaan dalam menjalankan hal-hal positif, melalui dengan niat yang tulus ikhlas karena Allah subhaanahu wa ta’ala. Komitmen dalam memperbaiki diri merupakan cerminan akhlak yang baik bagi setiap orang. Untuk bisa menghindari sifat lalai seperti ini, tentulah kita harus teladani Nabi Muhammad shallallahu’alayhi wa salam beserta para sahabatnya. Bagaimana dalam aktifitas dan kehidupan sehari-harinya selalu digunakan untuk beribadah kepada Allah serta menjadi pribadi yang bermanfaat kepada sesame manusia, walau ujian dan cobaan terus menerpa.[]

Penulis: Reza Arghavin
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Forum Lingkar Pena Ciputat

Senin, 16 Juni 2014

Nilai Sebuah ‘Alhamdulillah’

Mulailah segala sesuatu dengan basmalah dan akhirilah dengan membaca hamdalah. Tentu ajaran ini sudah di luar kepala bagi setiap muslim, walau kadang masih saja terlewat.Namun ada sesuatu yang membuat kita mengernyitkan dahi ketika ajaran seperti itu diterapkan tidak pada tempatnya. Bisakah hal itu terjadi?

Kita ambil contoh, dalam suatu malam penganugerahan kepada para insan perfilman, seorang pemeran utama naik ke panggung dengan pakaian “seadanya” untuk menerima penghargaan sebagai pemeran terbaik, setelah menerima award seperti lazimnya, ia memberikan sepatah dua patah kata dan tak lupa ia mengucapkan salam dan puji syukur, bahkan kadang disertai sujud syukur, “Alhamdulillah berkat Allah saya dapat memenangkan award ini, bla…bla…bla…”

Di sisi lain kita tahu bagaimana, sebagai apa, peran artis tersebut dalam suatu film, memang sih aktingnya bagus, tapi dia berperan seronok yang jauh dari pesan-pesan moral dan tuntunan agama. Suatu ketulusan yang tidak pas, suatu ketulusan yang mungkin tepat waktu, tapi tidak tepat sasaran. Tepat waktu karena dia mendapatkan anugerah yang tentu tidak semua orang bisa meraihnya, tapi tidak tepat sasaran karena apa yang ia lakukan sehingga mendapat anugerah tersebut.

Contoh yang lebih sederhana, seorang pelajar atau mahasiswa, ketika dalam suatu ujian dia mengalami kebuntuan, tiba-tiba terpikir untuk melirik jawaban teman di bangku sebelah, karena tidak biasa nyontek, “deg-degan juga nih”, tapi karena godaan begitu kuat (dasar syetan!) akhirnya diputuskan juga untuk melirik jawaban dari tetangga sebelah yang kebetulan terkenal pintar, dan tak lupa dia menerapkan ajaran di awal tulisan ini, dia mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga tidak ketahuan dengan penuh ketulusan, lhoo….?

Seorang PSK dengan penuh kepasrahan berujar, “Walaupun pekerjaan saya seperti ini, tapi alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak saya yang entah di mana bapaknya” welehweleh Mungkin pula seorang pencuri, pembunuh, pemabuk, bahkan koruptor tak melewatkan membaca bismillah dan hamdalah untuk memulai dan mengakhiri aksinya. Ini sesuatu yang tidak pas, aneh, atau bagaimana ya? Mungkin itulah gambaran sebagian penerapan ajaran agama dalam kehidupan di sekitar kita. Bagaimana dengan Anda?

Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala dan mengakhirinya dengan memuji-Nya adalah dalam hal-hal kebaikan. Bagaimana dengan kejadian-kejadian di atas? Jangan-jangan mereka tidak sadar, walaupun sebenarnya tahu, kalau berzina, menyontek, mencuri, korupsi, adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak selayaknya didahului dan diakhiri dengan menyebut nama-NYA.

Memang kadang kita tidak sadar dengan perkataan dan kelakuan kita sendiri, karena sudah menjadi kebiasaan, sebagai contoh, Sholat, karena sholat telah menjadi kebiasaan, kita telah hafal di luar kepala bacaan dan gerakan-gerakannya sampai-sampai kita mengerjakannya tanpa sadar, tiba-tiba, lho kok udah mo salam ya..??? Sungguh jauh dari khusyuk, na’udzubillah mindzaalik.

Allahkadang hanya diingat pada saat-saat sempit, sulit, terjepit, dan terlilit, pada saat-saat seperti itulah nama Allah muncul dalam hati kita, kemudian dengan penuh keikhlasan, ketulusan, dan menghiba kita memohon agar Allah subhanahu wata’ala mengabulkan, menyelamatkan, dan membebaskan kita dari segala lilitan tadi. Setelah bebas, di mana Dia, entah, tak muncul lagi dibenak kita nama-Nya. Hanya sebatas inikah kadar keimanan dan keberagamaan kita? Sungguh menyedihkan, tak jauh beda dengan imannya Fir’aun yang mengatakan aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, namun perkataan itu tiada gunanya karena terucap di kala nyawa sudah di tenggorokan, na’udzubillah mindzaalik.


Setiap saat kita perlu bermuhasabah, melihat ke belakang apakah perkatan, pekerjaan, dan perilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam? Selalu berpikirlah dengan apa yang sedang kita kerjakan ataupun kita katakan, tepatkah perkataan saya ini? Benarkah, pantaskah saya melakukannya? Mulailah dengan basmalah dan akhirilah dengan hamdalah, dengan penuh ketulusan dan khusyuk semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala dan hindarilah perbuatan dan perkataan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

::: Order DVD Anak Sholeh Film kartun edukasi untuk anak usia 1 sampai 15 tahun. Buruaaan Order sekarang selama masa promosi dan diskon menjelang ramadhan. Klik Disini Untuk Mengunjungi Toko Online Kami :::

Syahid Seorang Sahabat


Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakratul maut? Berapakali Anda melihat mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur?

Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas. Maka seperti mendengat petir di siang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium empat!!

Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain.

Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!“Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun-,” kata ibunya sambil mengusap airmatanya. Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya berkata dengan suara nyaris tak terdengar, “Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha.”Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri.

Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan sholat Dhuha. Selesai sholat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus terdengar asma Allah. kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis. 
.
Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua.

Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna dalam usia yang baru 18 tahun.Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak. 


Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu??

::: Order DVD Anak Sholeh Film kartun edukasi untuk anak usia 1 sampai 15 tahun. Buruaaan Order sekarang selama masa promosi dan diskon menjelang ramadhan. Klik Disini Untuk Mengunjungi Toko Online Kami :::

Lama Menghilang, Artis Cilik Itu Kini Jadi Dokter Berhijab


Lama tak dengar kabar beritanya. Dan ingatan kita tentang dia, hanya sebagai seorang biduan cilik.Kini rupa penampilannya sudah berganti. Berganti juga profesi. Pembawaan. Dia kini sangat bersahaja. Lihat saja foto-fotonya itu.

Pramaisshela Arinda Daryono Putri, yang belasan tahun lampau sohor dengan nama panggilan Maissy, kini sudah menjadi dokter. Saban hari bertemu orang sakit. Saban hari mengabdi menyembuhkan orang. Ya, dia memang seorang dokter. Dokter sebenarnya, bukan dalam lelakon.

Pada tahun-tahun 1990-an, Maissy-begitu nama sohornya, adalah seorang penyanyi cilik dengan sehimpun bakat. Sudah menelurkan banyak album. Tembang merdunya yang akrab di kalangan anak-anak belia pada tahun itu antara lain: Si Kuman Nakal, Jumpa Lagi, dan Idola Cilik. 

Dan bukan itu saja. Dara cantik kelahiran  23 Maret 1990 ini, juga pernah menjadi bintang sinetron. Membintangi sinetron disalah satu stasiun televisi swasta. Sepanjang bergelut dalam dunia keartisan Maissy telah membesut 12 album. Album terakhir dirilis satu dasawarsa silam, tahun 2003. Meski albumnya tergolong laris, semenjak saat itu si belia cantik itu hilang dari dunia hiburan. Hilang juga dari halaman berita.Ke mana gerangan si presenter Cilukba itu? Mungkin orang sudah melupakannya. Mungkin banyak yang mencari, tapi tak pernah menemukan.

Belakangan baru kita tahu bahwa sicantik itu ternyata menepi demi pendidikan. Melupakan wangi harum dan keriuhan dunia hiburan, lalu membenam diri di bangku kuliah. Dia sukses menuntaskan pendidikan kedokteran dari Universitas Indonesia.

Dan menjadi dokter tampaknya sudah jadi pilihan hidup Maissy. Dia melewati sejumlah program intenship demi meraih gelar dokter. Terbenam di pelosok,  wilayah terpencil di daerah Kalimantan. Jauh dari hingar bingar. Jauh dari keriuhan ibukota. Meninggalkan dunia hiburan yang harum wangi yang sudah melambungkan namanya. Dan tugas di daerah terpencil itu sukses dilewati.

Awal tahun 2014, Maissy  menikah dengan seseorang bernama Rizky, pria yang "dipetiknya" dari romantika di bangku kuliah. Maissy tidak hanya menemukan jodoh, tapi juga menemukan jalan hidupnya sendiri. Kini dia tampil bersahaja dalam balutan hijab.

Penampilan baru itulah yang membuat sejumlah rekan selebritasnya pangling. Terutama sesama artis cilik yang berbelas tahun lampau sama berkibar. "Sekarang Dia terlihat sangat cantik mengenakan hijab,” kata Chikita Meidy, yang dulu juga sohor sebagai artis cilik.

Si Cilukba, yang dulu centil, energik dan periang itu, kini berubah menjadi sosok dokter yang anggun, ramah dan bersahaja dalam balutan hijab.(Dream.com)

(Tia/Kasurau)

::: Order DVD Anak Sholeh Film kartun edukasi untuk anak usia 1 sampai 15 tahun. Buruaaan Order sekarang selama masa promosi dan diskon menjelang ramadhan. Klik Disini Untuk Mengunjungi Toko Online Kami :::

Senin, 02 Juni 2014

Cara Menyulap Kendaraan sebagai Tempat Ibadah Kita

Bagi kita yang sering menghabiskan waktu di kendaraan baik saat berpergian ke kantor maupun pulang maka ada baiknya kita mulai melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk mengusir rasa penat dan lelah berkendaraan. Zikir adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dan dapat dilakukan dimana saja dan kapansaja (qiyaaman wa qu'uudan) sambil berdiri dan duduk, baik saat sibuk maupun tidak.

Daripada menghabiskan waktu memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka lebih baik menggunakan waktu berkendaraan untuk berzikir mengingat Allah Swt baik mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar maupun beristighfar. Saking pentingnya berzikir, ulama salaf tidak pernah meninggalkan zikir meskipun sesaat.

Ada salahsatu zikir yang apabila dibacakan maka akan memperberat timbangan amal kebaikan kita. Zikir tersebut disebutkan dalam hadits yang kurang lebih artinya "dua kata yang ringan diucapkan tapi berat diatas timbangan yaitu  subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil 'adziiim", 

Selain itu ada banyak zikir-zikir yang dapat kita amalkan saat kita berkendaraan seperti kalimat tauhid "laa ilaaha illallahu", Sholawat kepada nabi dan lainnya. Dengan tujuan setiap detik kehidupan kita tidak ada yang terbuang sia-sia. Meskipun dalam keadaan sesulit apapun tetaplah berusaha mengingat Allah Swt karena jika kita selalu mengingat Allah Swt maka allah Swt juga akan selalu mengingat kita dan mencurahkan rahmat serta pertolonganNya.

Zikir adalah salahsatu cara kita mengingat Allah Swt dengan menyebut namaNya, mensucikan sifatnya serta memohon ampunan kepadaNya dari setiap kesalahan dan kealpaan kita. Semoga bermanfaat bagi kita semua!!!

Penulis : Muhammad
@Seven Eleven Tebet Mas

Minggu, 01 Juni 2014

Melalui Siapa Rejeki itu Datang

Matahari baru muncul dari peraduannya ketika Pak Hasan keluar dari rumahnya. Dua orang anaknya ikut bersamanya. Sebelum ke kantor Pak Hasan biasa mengantarkan dulu anak-anaknya ke sekolah. Husna, istrinya yang sedang hamil, mengantarkannya sampai di pintu gerbang. Sambil mencium tangan suaminya ia berpesan, "Hati-hati di jalan Mas."

"Insya Allah, baik-baik di rumah ya. Assalaamu'alaikum." kata suaminya.

"Wa'alaikumussalaam." jawab Husna.

Husna segera menutup pintu pagar segera setelah suaminya berlalu. Ia kembali masuk rumah. Tugas rutin sudah menanti, ngurus si kecil yang masih balita, menyiapkan makan siang, menata rumah, dan masih banyak lagi. Sebenarnya ada si bibik yang membantunya, tapi tetap saja ia tidak bisa berlepas tangan. Semenjak menikah dan mengandung anak pertama, Husna memang sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai karyawati di sebuah perusahaan. Ia dan suaminya sudah sepakat memprioritaskan yang utama dan berbagi tanggung jawab.

Dari dalam rumah Husna mendengar suara motor Pak Syarif, tetangga depan rumahnya, meledak-ledak knalpotnya. Sementara anaknya terdengar sudah mulai merajuk,
"Bapak ayo dong, nanti Alya telat masuk sekolah."
"Sebentar nak, motornya lagi ngadat." jawab Pak Syarif.

Tak lama kemudian terdengar bel rumah Husna berbunyi, tingtong....tingtong.
"Assalaamu'alaikum!" terdengar seseorang mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalaam!" jawab Husna. Iapun bergegas membukakan pintu. Ternyata Pak Syarif yang datang.
"Maaf Bu Husna, boleh saya meminjam motor? untuk nganter Alya ke sekolah. Kebetulan motor saya lagi ngadat."
"Oh ya Pak, silahkan, motor saya juga lagi nganggur kok." Husna mengambil kunci motor dan menyerahkannya ke Pak Syarif.
"Maaf Bu Husna, jadi ngrepoti ini. Sekalian mau nanya, dimana ya beli jarum sama benang? Alya disuruh bawa untuk pelajaran keterampilan. Ibunya gak sempat nyarikan."
"Oh, di sana Pak, di toko Warna Warni sebelah utara pasar. Semua bahan-bahan keterampilan tangan ada di sana, lengkap." jawab Husna.
"Terima kasih banyak Bu, saya permisi dulu, assalaamu'alaikum." kata Pak Syarif sambil menyalakan motor, dan segera berlalu.
"Wa'alaikumussalaam, sama-sama Pak."

Bu Syarifah, istri Pak Syarif, adalah wanita karir yang sukses. Pekerjaannya di salah satu perusahaan asing memang menuntut kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi. Apalagi kantornya cukup jauh dari rumah. Berangkat pagi buta dan malam baru pulang. Sementara Pak Syarif, yang berprofesi sebagai guru di sebuah yayasan, tidak terlalu sibuk, cukup punya waktu luang. Jadi Pak Syariflah yang lebih banyak menemani dan mengurus anak-anaknya. Kadang-kadang jika tidak sedang sibuk, atau sedang libur, Bu Syarifah menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan mobilnya.

Husna segera menutup kembali pintu pagarnya. Belum lagi masuk rumah, langkahnya terhenti karena ada yang menyapanya.
"Assalamu'alaikum, permisi Tante, mau anter pesanan kuenya."
Seorang gadis belia telah berdiri di luar pagarnya.
"Wa'alaikumussalaam. Eh... Aisyah, pagi bener sudah dianter kuenya. Ayo masuk sini!" sahut Husna.
"Iya Tante, pesanan Tante sudah saya bikin dari habis sholat subuh tadi. Maaf Tante gak bisa lama-lama, buru-buru mau ke toko, sudah ditunggu pelanggan." jawab Aisyah sambil menyerahkan sekotak kue kepada Husna.
"Makasih ya Aisyah"
"Sama-sama Tante. Saya permisi dulu. Assalaamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam..." jawab Husna mengakhiri pembicaraan.

Aisyah, anak tetangga sebelah, umurnya belum genap 17 tahun. Ceria, energik dan kreatif. Sejak beberapa tahun yang lalu ayahnya sakit, sehingga tidak kuat lagi bekerja. Syukurlah Aisyah dan 2 orang adiknya sangat giat berusaha. Mereka rajin dan bersemangat. Dimulai dari jualan kue kecil-kecilan, keliling kampung, hingga sekarang mampu menyewa toko di dekat pasar. Dengan usaha anak-anak itu, kebutuhan hidup mereka bisa tercukupi.

Tiga keluarga, hidup bertetangga, dengan model kehidupan yang berbeda. Dalam satu keluarga, setiap anggotanya punya kemampuan dan juga kesempatan yang berbeda-beda dalam meraih sesuatu. Termasuk dalam hal mendapatkan penghasilan. Allah memberikan rejeki dari arah mana dan lewat siapa, tidak sama untuk setiap keluarga. Seperti keluarga Hasan-Husna, Allah mendatangkan rejeki lewat pekerjaan suami. Sementara keluarga Syarif-Syarifah, Allah lebih banyak mendatangkan rejeki lewat istri. Lain lagi dengan keluarga Aisyah yang mana melalui usaha anak-anaknya Allah mendatangkan rejeki.

Masalahkah itu? Harusnya tidak. Asalkan tiap-tiap individu dalam keluarga itu saling memahami, menghormati dan tahu kedudukannya masing-masing.

Hasan sebagai kepala keluarga sudah selayaknya berkewajiban mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam QS. An-Nisa’ ayat 34:

Kaum laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan golongan mereka (laki-laki) atas golongan yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (istri). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka,dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu,maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Sebagai suami tanggung jawab materiilnya adalah berusaha dengan sekuat kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Sedangkan tanggung jawab morilnya adalah dia harus pandai memilah dan memilih, agar nafkah yang diberikan kepada keluarganya benar-benar halal.

Di kantornya Hasan dianggap sombong dan sok suci, bahkan ada beberapa yang sangat tidak menyukainya. Lho, kok bisa? Ini diantara sebabnya. Ketika teman-temannya mengajaknya keluar kantor di jam kerja, dia menjawab, "Maaf, saya tidak berani meninggalkan kantor, walaupun sudah tidak ada pekerjaan. walaupun pak kepala juga tidak tahu." Kenapa begitu? Karena dia berprinsip bahwa dirinya digaji untuk kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, lima hari dalam seminggu. Kalau dia keluar kantor bukan untuk urusan kerja, berarti korupsi waktu, nanti di akhir bulan, ada yang tidak halal di gajinya, begitu prinsipnya.

Demikian pula ketika ada seseorang yang memberinya bingkisan, Hasan bertanya, "Untuk apa bingkisan ini Pak?"
Orang itu menjawab, "Ini untuk Bapak, saya berterima kasih, bapak telah membantu saya, telah memberi pelayanan yang baik dan cepat di kantor ini."

Hasan menjelaskan, "Pak, saya memang digaji untuk melayani siapa saja yang datang ke sini. Melayani dengan baik itu memang tugas saya pak, itu artinya saya belum membantu bapak, saya baru menjalankan tugas saja. Terimakasih apresiasinya dan silahkan dibawa kembali bingkisannya." Subhanallah, andai saja semua pegawai seperti itu.

Sedangkan sebagai istri, Husna bertanggung jawab urusan rumahtangga. Hasan memintanya untuk fokus dengan tanggungjawab itu. Husna rela meninggalkan pekerjaannya di kantor dan beralih meniti karir sebagai ibu rumah tangga. Husna sadar betul dengan kedudukannya yang sekarang. Mengingat perintah Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 33:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
Jaman sekarang menjadi ibu rumah tangga adalah profesi yang 'sepi peminat'. Tidak percaya? Tanya saja sama anak-anak yang masih sekolah, "Apa cita-citamu nak?" Jawabannya akan sangat beragam mulai dari jadi guru, dokter, pramugari, pilot sampai pengusaha. Tapi adakah yang menjawab, "Cita-citaku menjadi ibu rumah tangga yang sukses." Sulit kita temukan.

Di pihak lain, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ketika ditanya, "Ibu bekerja di mana?" merasa malu ketika harus menjawab, "Saya tidak ngantor, saya di rumah saja, jadi ibu rumah tangga." Apalagi yang nanya akan melanjutkan dengan perkataan, "Kenapa ibu tidak bekerja? Tidak enak lho tidak punya penghasilan sendiri itu, mau apa-apa harus minta suami, sedikit-sedikit harus ijin suami. Kepengen ini tidak bisa, kepengen itu tidak kesampaian, repot!"

Padahal kalau kita cermati profesi sebagai ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan ringan, ini pekerjaan hampir tidak ada istirahatnya, juga tidak ada jatah cutinya. Setiap harinya mulai bertugas paling awal dan selesai paling akhir. Tidak tanggung-tanggung beberapa posisi dan jabatan diborong. Mulai dari cleaning service, chef, baby sitter, guru privat, purchasing manager, sekretaris pribadi, dan satu lagi, ketika malam tiba harus bisa menjelma menjadi bidadari cantik untuk menyambut sang pangeran, heem........

Di kantor manapun tidak ada jabatan segitu banyak di pegang satu orang, tidak akan ada yang mau. Apalagi profesi ini tidak ada salarynya. Lengkaplah sudah…Tapi jangan khawatir dapatnya jauh lebih baik dari sekedar salary, yaitu pahala yang berlimpah, subhanallaah.

Apabila seorang wanita sholat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, "Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR Ahmad 1/191 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimullah dalam Shahilul Jami' no. 660, 661)

Keutamaan-keutamaan lainnya bisa kita baca di hadist panjang nasehat Rosulullah SAW kepada putrinya, Fatimah Az-Zahro ra.

Sementara untuk pasangan Syarif-Syarifah yang mana istrinya punya kemampuan dan kesempatan yang lebih dibandingkan suaminya dalam berkarir. Di era sekarang ini hal itu tidak mustahil. Karena pendidikan dan peluang sudah sangat terbuka bagi wanita, sehingga untuk beberapa posisi karir seorang wanita bisa lebih cepat melejit dibandingkan kaum laki-laki.

Jika hal itu yang terjadi dalam sebuah rumahtangga, maka bagaimana cara memandang dan memahaminya, menjadi sangat penting. Sebagai seorang istri amatlah terpuji jika dia menerima dan ikhlas dengan apapun dan seberapapun nafkah yang diberikan suaminya. Namun jika 'terpaksa' karena satu dan lain hal, maka tidak mengapa jika seorang istri bekerja di luar rumah.. Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan keterpaksaan itu misalnya:

1. Kebutuhan ekonomi yang mendesak.
2. Ada orangtua atau saudara yang harus dinafkahi.
3. Ada planning yang membutuhkan dana, misalnya biaya pendidikan anak, menunaikan ibadah haji, menyantuni anak yatim dan dhu'afa, membangun pesantren, atau yang lainnya.
4. Profesi yang digeluti sangat dibutuhkan oleh orang banyak.
5. Mempunyai ilmu dan ketrampilan yang sangat bermanfaat.
6. Menghindarkan diri dari meminta-minta bantuan pada orang lain (menjaga kehormatan diri dan keluarga).

Jika keterpaksaan itu harus diambil maka sangat diperlukan adanya saling pengertian dari masing-masing pihak. Istri wajib mengantongi ijin dari suami dan harus mendapatkan ridlonya untuk menekuni karirnya. Yang terpenting adalah istri harus mampu mendudukkan dirinya pada tempat yang semestinya. Misalnya seorang istri walaupun di kantornya punya kedudukan tinggi, tapi di dalam rumah tetaplah seorang istri, yang harus menghargai, melayani dan taat pada suaminya. Bagaimanapun juga seorang istri bisa seperti itu karena dukungan dari suaminya, tak jarang pula karena suaminya bersedia mengambil alih beberapa tugas atau kewajiban istrinya.

Diberi kesempatan dan ijin untuk menjadi wanita karir jangan sampai menyebabkan istri durhaka pada suami. Alangkah baiknya jika kesempatan itu dipakai untuk sebanyak-banyaknya mengambil manfaat. Dengan mempunyai penghasilan sendiri seorang istri bisa berbuat lebih banyak dibandingkan yang tidak berpenghasilan. Lebih besar kesempatan untuk bersedekah, lebih banyak peluang untuk membantu sesama, dan terbuka lebar jalan untuk beramal jariah dengan ilmunya. Jika bagi seorang suami menafkahi keluarga adalah wajib, maka bagi istri memberi nafkah keluarga adalah sedekah.

Selain itu perlu juga dipilih pekerjaan yang tidak melanggar ketentuan syar'i. Yaitu pekerjaan yang halal dan menghasilkan yang halal pula, juga dalam bekerja tetap bisa menjalankan kewajiban sebagai muslimah dengan baik. Misalnya ibadah fadlu ‘ainnya tidak terganggu, kewajiban utama sebagai istri tidak terbengkalai, dan akhlaqnya tetap terjaga dengan etika pergaulan dan cara berpakaian yang syar’i.

Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Lain Syarif-Syarifah lain pula halnya dengan Aisyah. Tatkala kepala keluarga tak lagi mampu mencari nafkah, Allah tidak berhenti untuk memberikan rejeki-Nya. Melalui anak-anaknya Allah menurunkannya. Kondisi ini justru memberi kesempatan bagi anak-anaknya untuk berbakti pada orangtua lebih baik lagi.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS Al-Isra’ [17]: 23-25)

Jika anak-anaknya ikhlas, Insya Allah keberkahan akan menaungi mereka, dan surga telah menanti mereka, Insya Allah.

Rasulullah telah menghimbau dengan sabdanya: "Barangsiapa ingin panjang umur dan beroleh rizki melimpah ruah, maka hendaklah dia berbakti kepada orangtua dan menyambung tali persaudaraan." (HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik).

Rasulullah telah menegaskan, bahwa barangsiapa berbakti kepada orangtua, maka dia akan memperoleh kebahagiaan panjang umur yang penuh keberkatan. (HR. Imam Abu Ya'la dan Thabrani bersumber dari Mu'adz bin Jabal)

Suatu ketika datang seseorang lalu berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya ingin ikut berjihad, tapi saya tidak mampu!” Rasulullah bertanya, “Apakah orangtuamu masih hidup?” Orang itu menjawab,“Ibu saya masih hidup.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenjelaskan: “Temuilah Allah dengan berbakti kepada kedua orangtuamu (birrul walidain). Jika engkau melakukannya, samalah dengan engkau berhaji, berumrah dan berjihad.” 
(HR. Thabrani).

Setiap alur kehidupan mempunyai kelebihan masing-masing, sekaligus juga mempunyai kekurangannya sendiri-sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana mengelola kelebihan tersebut sehingga mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya, dan meminimalkan kekurangan yang ada agar tidak mendatangkan madhorot. Setiap insan diberi jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari, tidak lebih tidak kurang. Di rentang waktu itu banyak hal yang bisa kita kerjakan. Sulit bagi kita untuk bisa mengambil semua pekerjaan itu sekaligus, maka harus dipilih mana yang manfaatnya lebih besar daripada madhorotnya. Untuk tiap individu atau keluarga bisa berbeda-beda jalan yang ditempuh, tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing. Tiap pilihan pasti ada sisi baiknya dan ada sisi buruknya, ada kelebihannya ada kekurangannya.

Jika karena kesibukan di luar rumah seorang istri tidak sempat membuatkan dan menyajikan makanan dan minuman untuk suaminya, padahal pahala untuk itu lebih baik daripada berhaji dan puasa setahun penuh, maka lakukanlah sesuatu yang pahalanya setara atau lebih dari itu.

Jika banyak yang tidak mau repot hamil dan melahirkan banyak anak, padahal pahala wanita yang hamil sama dengan orang yang selalu puasa di siang hari dan sholat sepanjang malam, dan ketika melahirkan hapuslah segala dosa sebelumnya, kecuali dosa syirik. Belum lagi pahalanya merawat anak, maka ambillah sesuatu yang lebih utama dari itu. Bukan bermaksud hitung-hitungan tapi hanya memanfaatkan waktu dengan maksimal, bukankah umur kita di dunia ini sangat terbatas? Kita hanya berusaha untuk melakukan amalan yang paling utama dan menghindari kesia-siaan, agar tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Barangsiapa yang bekerja (dengan niat atau tujuan) untuk kedua orang-tuanya, maka ia berada dalam jalan Allah, dan barang-siapa yang bekerja untuk keluarganya, maka ia berada dalam jalan Allah, dan barang-siapa yang bekerja untuk dirinya, untuk menjaga kehormatannya maka ia berada dalam jalan Allah. Dan barang-siapa yang bekerja (dengan niat atau tujuan) menumpuk-numpuk harta, maka ia berada di jalan yang sesat atau di jalan syaithan.
(Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Abu Nu'aim dan Ash-Bahani. Lihat Al-Ahaditsush-Shahihah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddîn Al-Albani jilid V hal. 272 no.: 2232)

Insya Allah tidak ada yang berat jika semua kita lakukan dengan penuh harap akan pertolongan Allah, dan Allah juga telah memberi kita keringanan dengan firman-Nya:

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghobun: 16)


Penulis : Santi Harmoetadji
Ibu Rumah Tangga yang berusaha untuk menjadi insan mulia



DVD Anak Sholeh Promo Ramadhan
Pesan Sekarang hubungi 0857 7619 8625
DVD Anak Sholeh, Tontonan Edukasi Untuk Anak
[KLIK disini untuk Munjungi Blogstore Kami]

Jumat, 23 Mei 2014

Perkenalkan, ini Inanike Agusta Pramugari Cantik Garuda Indonesia yang Shalat di Pesawat

Inanike Agusta Pramugari Cantik Garuda Indonesia
yang Shalat di Pesawat Garuda Indonesia menuju Malaysia


Foto seorang pramugari Garuda Indonesia yang sedang salat di pesawat membuat heboh. Banyak yang memuji wanita cantik tersebut karena tetap meluangkan waktu ibadah di mana pun. Siapa dia sebenarnya? Efek bacaan Al-Quran terhadap tubuh manusia (Percobaan)

Pramugari tersebut bernama Inanike Agusta. Seorang dara cantik kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, yang sudah 4 tahun menjadi pramugari Garuda Indonesia.

Ditemui detikcom di Garuda Training Center, Jl Duri Kosambi, Jakbar, Kamis (22/5/2014), Nike tampil dengan pakaian khas pramugari Garuda berwarna oranye. Rambutnya tergulung rapi dan senyumnya terus merekah. Tips Mendidik Anak secara Islami Kenal Tuhan dan Cara Berbakti kepada kedua orangtuanya

"Alhamdulillah, ini berita positif. Saya juga surprise, padahal hanya menjalankan kewajiban saja," ucap Nike saat ditanya soal foto salatnya yang dijepret fotografer asal Malaysia.

Nike mengaku tak ingat kapan penerbangan itu berlangsung. Dia juga tak hapal rute yang ditempuh ketika foto itu diambil.

"Saya cuma ingat 6 bulan lalu, ada orang yang memfoto lagi salat, tapi saya nggak yakin apa itu benar waktunya," cerita Nike.

Awalnya, mantan sekretaris di PLN ini hanya mendengar tentang kabar ada pramugari yang difoto saat salat. Dia belum melihat langsung foto tersebut. Baru ketika orang banyak mengucapkan selamat, dia menyadari wanita yang sedang salat duduk itu adalah tak lain dirinya. Bagaimana cara mendidik anak agar jadi penurut dan pintar serta berakhlak mulia

"Ada yang bilang positif, ada juga yang bilang biasa aja, orang salat. Saya sih nggak mau terlalu pusing, yang penting menjalankan kewajiban saja," tuturnya.

Kini, kehidupan Nike memang berubah semenjak foto itu beredar. Banyak orang yang mengenalnya, bahkan meminta tanda tangan. Selama itu positif, Nike merasa senang menjalaninya.

Kamis, 22 Mei 2014

Mendidik Anak agar Menjadi Aset Menuju Rumah Keabadian (Surga)



Disela-sela kesibukan saya mengajar, saya ingin selalu berbagi berbagai informasi dan ilmu pengetahuan dengan harapan agar ilmu yang sedikit ini mampu bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat serta seluruh masyarakat indonesia. Berangkat dari pengalaman sehari-hari mengajar Al-Quran (Tahsin dan Tahfidz) kepada beberapa keluarga yang berada di daerah Jakarta, saya ingin sekali berbagi pengalaman juga masukan "Bagaimana cara mendidik anak agar menjadi aset yang akan memasukkan kedua ibu bapaknya ke dalam surga bukan menjadi bumerang yang akan menjerumuskan ke dalam neraka jahannam".

Wahai Ibu bapak kami, Ajarkan kami cara mengenal Tuhan dan cara Sholat
Agar kami tau cara berbakti kepada kalian dan tau cara mendo'akan kalian
kelak ketika kalian sudah tidak ada disisi kami lagi.

Pendidikan yang dianut mayoritas masyarakt indonesia dimulai dari SD, SLTP, SMU atau setingkatnya sama sekali tidak mendukung pendidikan atau edukasi spiritual dan juga pengelolaan emosional yang baik. Sebaliknya, diantara keseluruhan mata pelajaran yang diajarkan tersebut hanya memperhatikan perkembangan Intelektual si anak didik dengan tujuan agar anak-anak itu akan menjadi anak pintar dan berprestasi tinggi. Inilah yang menjadi akar persoalan yang menimbulkan kemerosotan akhlak dan budi pekerti yang menjadi Pekerjaan Rumah untuk kita semua. Bagaimana tidak, ada orang pintar dengan intelektual diatas rata-rata dan lulusan terbaik kampus tertentu tapi kerjaannya mencuri alias korupsi. Itulah akibatkan karena mutu pendidikan di Indonesia hanya melihat pintar dari segi intelektual tanpa pernah mendidik secara emosional dan spiritual sehingga mereka tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bahkan mereka tidak mampu mengenal siapa tuhan mereka yang selalu mengawasi setiap gerak-gerik dan tingkah laku mereka.

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka". (Surah Ali Imran :10).

Ayat diatas menjelaskan betapa buruknya nasib orang-orang kafir, semua harta dan anak keturunan yang mereka banggakan selama di dunia ini nantinya tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari siksa neraka. Apakah ayat ini hanya dikhususkan kepada orang-orang kafir? Pengertian kafir secara istilah adalah tertutupnya hidayah kedalam hati seseorang baik muslim ataupun kafir dan secara bahasa kafir adalah tertutup dari sesuatu. Jika kita melihat defenisi kata kafir secara istilah tersebut ayat ini mencakup keseluruhan manusia baik yang kafir secara hakiki (kafir secara lahiriah yaitu beragama selain islam dan sebagainya) ataupun kafir dengan pengertian agamanya masih islam tetapi pemikiran dan lainnya masih mengikuti tradisi orang-orang kafir.

Sangat menyedihkan bila ada umat islam yang mengaku dirinya muslim tetapi malah menganggap remeh terhadap kitabullah dan menganggap remeh terhadap ilmu-ilmu agama. Malah mereka senang berjam-jam menghabiskan waktu bersama teman-teman tetapi merasa rugi jika waktu tersebut digunakan untuk membaca dan merenungi setiap ayat yang ada dalam Al-Quran. Kebanyakan orang kaya menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang notabenenya sekolah elite dan terpandang, dan bisa dipastikan sekolah tersebut jauh dari norma dan nilai-nilai ajaran islam karena mereka hanya mementingkan sisi intelektualitas dan mengabaikan sisi spiritual anak-anak didik mereka. 

Orangtua yang mengabaikan pendidikan agama terhadap anak-anak mereka kelak akan merasakan  betapa menyesalnya karena dahulu Allah swt telah memudahkan rejeki kepada mereka tapi malahan anak-anak itu tidak tahu cara berbakti kepada mereka. Kapan mereka menyesal? Penyesalan pasti akan datang belakangan, ketika mereka sudah tua dan anak-anak yang mereka banggakan itu telah menjadi direktur dan orang penting lainnya tapi malahan mereka dianggap sampah oleh anak-anak mereka sendiri. Dan kelak diakhirat anak-anak tersebut akan menjadi bumerang yang menyebabkan mereka disiksa selamanya dalam neraka yang sangat pedih itu. Na'uzdubillah min Dzalik!

Ayo Belajar Sebelum terlambat!!!
Ajarkan anak-anak anda dengan cara yang baik....
Ajarkan mereka cara sholat dan mengaji....
Ajarkan mereka mengenal Tuhannya....
Ajarkan mereka adab dan sopan santun....

Berikan mereka tontonan yang baik yang akan membuat mereka cerdas dan berakhlak mulia. Let's see it here!!!

Sabtu, 17 Mei 2014

Kesedihan yang akan terbayar dengan Surga

Penghafal Al-Quran akan mati layaknya syuhada' yang membela agama Allah
mati dalam keadaan yang baik serta jasadnya tidak akan dimakan ulat
serta dapat menolong keluarganya kelak di yaumil Qiyamah.
Let's memorize Al-Quran NOW!!!

Penulis: Muhammad
Terkadang hidup tdk adil karena kehidupan selalu berpihak kpd mereka yang mendominasi. Itulah hakikat dari kata ghurur dalam al quran yang menggambarkan kehidupan dunia ini layaknya sandiwara yang telah diatur skenarionya. Tapi berusaha memilih peran yang baik dan positif thinking kepada Allah karena ia berdasarkan dugaan hamba-hambaNya. Ketika kita coba merenungi kehidupan ini sangat tepat jika disandangkan predikat ghurur atau sandiwara dikarena pola pikir dan hakikat keinginan manusia selalu ingin mendominasi bukan berada di pihak yang tereliminasi. Hafal Al-Quran karena jalan macet total
Padahal belum tentu golongan mayoritas yg mempunyai pengaruh dan dominan tersebut adalah golongan yang kelak akan memperoleh kemenangan yg hakiki atau surga. Kesuksesan hakiki (surga) itu merupakan pemberian Allah Swt kepada hamba-hamba pilihan, seperti produk terbaik yang mengungguli dari keseluruhan produk-produk lainnya. Hasil terbaik inilah yang selalu menjadi keinginan dari para sahabat, tabiin dan orang-orang sesudah mereka yg rela tidak tidur sampai larut malam hanya untuk qiyamul lail, beramal shaleh, menghafal Al Quran dan tidak pernah berhenti mentadabburinya siang dan malam serta dalam keadaan dan cuaca seperti apapun. Seorang yahudi memilih islam sebagai agama barunya
Sekarang ini, motivasi untuk menjadi khaira ummah (umat terbaik) seharusnya senantiasa menjadi panduan kita, bagaimana para ulama yang selalu berlomba-lomba dalam mencari ilmu. Mereka rela berjalan bermil mil jauhnya hanya untuk mencari sebuah hadits, bagaimana semangat mereka ketika menghafal al-Quran serta menelaah kandungannya sehingga menghasilkan tafsir yang berjilid-jilid tebalnya.
Semangat mereka seharusnya menjadi motivasi agar kita bangkit untuk menghafal, mengkaji serta mengamalkan isi al-Quran bukan sekadar bercerita tanpa isi dan tanpa makna. Dengan begitu semua kesedihan, kesusahan akan terbalas dengan surga yang diperuntukkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh di dunia ini. Mengapa para ulama tidak mau shalat malamnya diketahui orang lain?
Jadilah orang yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw, raihlah derajat surgamu sejauh mana bacaan al Quranmu, begitulah cara allah mengangkat seseorang yg dikehendakiNya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Swt senantiasa menjaga para penghafal al-Quran dari gangguan orang-orang yang dengki kepada mereka "Barangsiapa memuliakan penghafal quran maka allah akan memuliakannya dan barangsiapa merendahkan penghafal al quran, allah juga akan merendahkan (derajat) mereka". Jadilah salah satu penghafal dan penjaga kalam Allah Swt dengan memulai menghafalnya dan mengamalkannya setiap saat. Semoga bermanfaat!!! [][][][]

Kami membuka kelas private Al-Quran baik personal maupun kerjasama antar lembaga dan instansi. Bagi anda yang berminat dan ingin berkonsultasi seputar pengembangan dan kurikulum Al-Quran silahkan hubungi 085776198625 atau Melalui email el_hufadz@yahoo.com.