Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juli 2014

KISAH ALI BIN ABI THALIB KEDINGINAN TAK PUNYA SELIMUT

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah amirul mukminin saat itu. Khalifah, pemimpin negara. Ia bisa saja hidup kaya, karena wilayah Islam telah sedemikian luas dan baitul mal selalu menyimpan kas. Tetapi, seperti para pendahulunya, ia memilih hidup sederhana. Bahkan sangat sederhana, hingga membuat banyak orang menitikkan air mata saat melihat secara langsung kehidupannya.
Seperti malam itu. Seorang laki-laki, seperti diabadikan Syaikh Musthafa Murad, melihat Ali bin Abu Thalib kedinginan. Tubuhnya menggigil seperti dilanda demam. Di malam yang hawa dinginnya sangat menusuk itu, rupanya sang Khalifah hanya memakai selimut beludru. Ia tidak memiliki selimut tebal.
“Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian dari baitul mal untukmu dan untuk keluargamu. Tapi aku melihatmu kedinginan seperti ini karena tidak punya selimut”
“Demi Allah,” jawab Ali, “aku tidak mau mengambil sedikitpun harta umat di baitul mal. Selimut ini aku beli dari uang pribadiku.”
Subhanallah… adakah pemimpin seperti ini di zaman sekarang? Pemimpin yang rela kedinginan dan kelaparan. Pemimpin yang bersedia menjadi orang terakhir yang kenyang setelah umatnya menikmati makanan. Pemimpin yang bersedia menjadi orang terakhir yang beristirahat, setelah umatnya bisa tidur dengan nyenyak.
Tentang bagaimana Ali bin Abu Thalib membeli kain yang tak mampu melawan dingin itu, kisahnya tak kalah mengharukan. Menantu Rasulullah ini berniat membeli kain, sekedar mengurangi hawa dingin yang menusuk. Tetapi ia tidak memiliki uang. Benar-benar seperti dongeng. Seorang kepala negara sekaligus kepala pemerintahan tidak memiliki uang untuk sekedar membeli kain. Padahal penguasa yang sezaman dengannya dari kalangan non muslim, mereka hidup foya-foya dan bermewah-mewahan. Bahkan, setelah zamannya berlalu, penguasa muslim pun mengikuti gaya hidup mewah. Sedangkan Ali, sahabat yang dijamin masuk surga ini bahkan tidak memiliki uang empat dirham pun. Ya, harga kain yang ingin dibeli Ali cuma empat dirham. Namun ia tidak memilikinya. Dan karenanya, Ali kemudian menjual pedangnya.
“Siapakah yang mau membeli pedangku ini? Seandainya aku memiliki empat dirham untuk membeli kain, tentu aku tidak akan menjual pedang ini,” kata Ali di pasar. Subhanallah… tidakkah hati kita teriris menyaksikan kesederhanaan dan kezuhudan ini? Hidup kita terlalu mewah dibandingkan dengan Ali.
Seorang budak Abu Ghissin yang menyaksikan Ali membeli kain menceritakan apa yang dilihatnya. Bahwa Ali kemudian menemui pedagang kain dan membeli sebuah kain yang sangat murah. Hanya empat dirham. Kain itu ternyata tidak sepanjang tubuh Ali. Dan itulah sebabnya. Bukan hanya kurang tebal, kain itu juga tidak bisa menutupi seluruh tubuh Ali.
Tetapi itulah jalan hidup Ali. Sebagaimana pula jalan yang telah dilalui Rasulullah. Jika mengigilnya tubuh Ali bisa membuat orang yang melihatnya menangis, bekas anyaman tikar pada pipi Rasulullah telah membuat Umar bin Khatab menangis. Demikianlah jalan hidup para pemimpin muslim yang zuhud; dunia dihadapkan kepada mereka, tetapi mereka memilih hidup sederhana dan penuh ‘derita’ demi kebaikan umatnya dan kebaikannya kelak di hadapan Tuhannya. [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

MUSH’AB BIN UMAIR, PEMUDA YANG TINGGALKAN KEKAYAAN DEMI ISLAM

Mush’ab bin Umair adalah pemuda yang mempesona. Ia adalah salah seorang pemuda paling tampan di Makkah. Lahir dari keluarga yang kaya raya membuat penampilannya selalu terlihat paling parlente diantara seluruh pemuda Makkah lainnya. Bahkan, baju dan wewangiannya tidak ada yang menyamai. Dari jarak beberapa meter, sudah dapat diketahui dari wanginya yang khas, bahwa Mush’ab bin Umair baru saja melewati tempat itu.
Kelebihan Mush’ab yang lebih mempesona di balik wajahnya yang tampan dan orangtuanya yang hartawan adalah otaknya yang cemerlang. Perpaduan ketiga hal ini; ketampanan, kekayaan, dan kecerdasan, membuat Mush’ab bin Umair menjadi bintang pembicaraan dalam rapat dan pertemuan. Ia menjadi sosok pemuda ideal yang diimpikan pembesar Quraisy sebagai ‘pewaris tahta masa depan.’ Ia menjadi sosok pemuda idaman yang didambakan seluruh gadis Makkah untuk menjadi suaminya.
Di tengah harapan keluarga dan pembesar Quraisy bahwa Mush’ab akan menjadi penerus mereka, terdengar sebuah berita yang menarik perhatian setiap orang yang berakal. Bahwa Muhammad Al Amin menyatakan dirinya sebagai utusan Allah. Ia membawa agama baru bernama Islam, yang hanya menyembah satu Tuhan; Allah.
Ketika mengetahui kabar itu, Mush’ab bin Umair tertarik dan sangat penasaran. Ia tahu, Muhammad adalah orang yang paling terpercaya. Ia terkenal tidak pernah berdusta sehingga orang-orang Makkah sepakat memberinya gelar Al Amin. Akal Mush’ab yang cemerlang pun bekerja; bahwa tidak mungkin orang yang selama ini selalu jujur, akan berdusta dalam urusan besar yang membawa nama Tuhan. Mush’ab pun kemudian mencari tahu, di mana ia bisa berjumpa dengan Muhammad.
Hari itu pun tiba. Mush’ab dengan hati-hati melangkah ke rumah Arqam bin Abi Arqam. Ia mendapat informasi, di rumah inilah Muhammad bermajelis bersama para sahabatnya. Mentarbiyah mereka, membacakan wahyu-wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya.
Tak salah, Mush’ab akhirnya bertemu dengan Muhammad Rasulullah. Memandang beliau memberikan keteduhan sendiri bagi jiwanya yang selama ini dimanja orangtua dengan kekayaan dan kemewahan. Melihat majelisnya yang dipenuhi dengan wajah-wajah ikhlas dan penuh kejujuran membuat Mushab merasa laksana menemukan oase di gersangnya padang keangkuhan dan kesombongan orang-orang kaya dan para penguasa. Mendengar ayat-ayat Al Qur’an dibacakan, Mush’ab bagai menemukan kembali fitrahnya, mempertemukan jiwanya dengan sesuatu yang amat dirindukannya. Mushab melayang dalam kalam-kalam Ilahi yang begitu mempesona. Tidak pernah ia mendengar kalimat-kalimat seindah dan sedalam ini. Menyirami jiwa, menyentuh hatinya.
Rasulullah kemudian mendatangi Mush’ab dan mengusap dadanya dengan penuh kasih sayang. Gemuruh dalam hatinya menjadi damai dan tenang. Dan tak butuh waktu lama, Mush’ab bin Umair pun mengucapkan syahadat. Memproklamirkan bahwa dirinya adalah seorang Muslim, pengikut Muhammad.
Mush’ab pulang dengan jiwa yang penuh ketenangan. Meski saat itu banyak orang yang masuk Islam disiksa setelah diketahui keislamannya, Mush’ab bin Umair yang semula terbiasa hidup mewah dan manja kini tiba-tiba menjadi pemuda pemberani. Ia tak takut dengan resiko yang akan terjadi, seandainya orang-orang kafir Quraisy bersatu menjadi kekuatan yang mengancam keislamannya. Satu-satunya yang masih dikhawatirkannya adalah ibuna sendiri; Khunas binti Malik. Ia tahu, sebagaimana orang-orang Makkah juga tahu, Khunas adalah orang yang berkepribadian kuat. Orang kaya raya yang tidak suka perintahnya ditolak dan keputusannya dilawan. Memikirkan menghadapi ibunya sendiri, Mush’ab pun memilih merahasiakan keislamannya.
Tetapi ini adalah Makkah. Terlalu banyak mata-mata yang memperhatikan orang per orang, siapa saja yang telah dekat dan menjadi pengikut Muhammad. Keislaman Mush’ab pun akhirnya diketahui setelah seorang laki-laki bernama Usman bin Thalhah melihatnya mengendap-endap memasuki rumah Arqam bin Abi Arqam dan di waktu yang lain ia melihat Mush’ab melakukan shalat seperti yang dilakukan oleh Muhammad.
Sang ibu tak bisa memaafkan Mush’ab. Ia ingin Mush’ab kembali ke agama nenek moyangnya. Namun, Mush’ab dengan teguh mempertahankan keimanannya. Bahkan, ia membacakan ayat-ayat Al Qur’an di hadapan ibu dan keluarga besarnya. Sang ibu marah. Ia hendak menghentikan bacaan Qur’an itu dengan menampar Mush’ab. Tetapi tiba-tiba tangannya terkulai. Ia tak mampu memukul Mush’ab. Tetapi, ia punya rencana berikutnya. Mush’ab dihukum dengan cara lain. Mush’ab disekap di sebuah kamar.
Mushab terisolasi di ruangan itu seorang diri, untuk beberapa hari. Hingga kemudian, ia mendengar bahwa sejumlah sahabat berhijrah ke Habasyah. Mush’ab pun memanfaatkan momen ini. Dengan strateginya, ia bisa mengecoh ibunya dan penjaga. Mush’ab lolos dari kurungan itu dan bergabung hijrah ke Habasyah.
Mush’ab semakin tertempa menjadi sahabat Rasulullah. Ia yang dulunya selalu dimanja dengan kemewahan, kini menapaki hidup yang penuh kesederhanaan. Ia yang dulunya makan serba enak, kini lebih sering puasa dan menahan lapar. Ia yang dulunya selalu memakai pakaian indah, kini hanya memiliki pakaian seadanya, mulai penuh dengan tambalan. Ia yang dulunya selalu memakai minyak wangi terbaik, kini tak pernah lagi memakainya.
Sepulang dari Habasyah, menjadi pertemuan terakhir Mush’ab dengan ibunya. Sang ibu berniat kembali mengurungnya, tetapi Mush’ab bertekad untuk membunuh orang-orang utusan ibunya itu jika mereka mau menangkap dan menyekapnya. Mengetahui bahwa ia tak bisa menghalangi lagi putra kesayangannya, Khunas membatalkan perintah penangkapan itu. Dan mereka pun berpisah dengan bercucuran air mata. Pemandangan yang mengiris hati saat ibu dan anak harus terpisah, sebab Mushab memilih Islam dan Iman, sementara ibunya memusuhi agama itu seraya menegaskan fanatismenya pada penyembahan berhala.
“Pergilah ke mana pun kau suka, aku bukan ibumu lagi,” kata Khunas.
Mendengar itu, Mush’ab menghampiri ibunya dengan derai air mata. “Wahai ibu, aku sangat menyayangi ibu. Karena itu bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad asalah utusan Allah.”
“Tidak! Demi bintang-bintang, aku tidak akan masuk agamamu itu. Otakku bisa rusak dan kata-kataku tidak akan didengar orang lain jika aku menjadi pengikut Muhammad,” jawab Khunas dengan ketus.
Berakhirlah sudah satu episode kehidupan Mush’ab. Ia kini semakin hidup sederhana, meninggalkan seluruh kekayaannya, bahkan terpisah dari keluarga besarnya. Ia kini hidup bersama Rasulullah, dalam kemiskinan harta, tetapi dimuliakan Allah dengan kekayaan jiwa. Tak punya uang dan harta benda, tetapi Allah mencurahkan kedamaian dan kebahagiaan dalam naungan iman.
Saat melihat Mush’ab, sebagian sahabat merasa iba. Mereka yang mendapatkan caci maki dan mengalami cobaan karena masuk Islam, merasa tidak ada apa-apanya dengan cobaan yang dialami Mush’ab.
“Dulu, tidak ada orang yang dapat menandingi Mush’ab dalam mendapatkan kesenangan dari orangtuanya. Lalu semua itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan RasulNya,” sabda Rasulullah dengan penuh haru dan cinta. [Muchlisin BK/kisahikmah.com]

KISAH SINGA DAN SHALAT KHUSYU’

Singa itu disegani dan ditakuti karena diamnya.....
Imam Adz Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam Nubala’ menceritakan sebuah kisah yang mengagumkan dan sepantasnya jadi renungan kita bersama.
Sekelompok orang melakukan safar tiba di sebuah lembah yang dikelilingi hutan belantara. Saat malam tiba, mereka beristirahat di sana. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya seekor singa. Semua orang panik. Semua orang takut. Mereka pun berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon.
Tetapi, diantara riuhnya kepanikan itu, ada satu orang yang tetap tenang. Ia sedang shalat dan tetap melanjutkan shalatnya. Orang-orang melihat detik demi detik berikutnya yang sangat menegangkan. Benar dugaan mereka, singa itu mendatangi orang yang tengah melakukan shalat itu. Matanya menyorot tajam. Satu langkah, dua langkah. Aneh. Singat itu tidak langsung menerkamnya. Singa itu justru berjalan mengelilingi orang itu. Setelah itu, singa pergi meninggalkannya begitu saja.
Orang-orang bernafas lega. Setelah memastikan singa itu pergi dan tidak ada tanda-tanda ia kembali lagi, mereka pun turun dari pohon.
“Engkau gila!” kata mereka kepada temannya seusai ia shalat, “mengapa engkau tidak ikut menyelamatkan diri bersama kami? Hampir saja singa itu memakanmu”
“Seperti kalian lihat,” jawabnya tenang, “aku tadi sedang shalat. Demi Allah, aku merasa malu bahwa aku sedang berdiri menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi aku malah takut kepada hal lainnya.”
“Aku malu bahwa aku berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi aku malah takut kepada salah satu makhlukNya.”
Masya Allah… demikian tinggi tingkat khusyu’ shalat orang ini. Ia tetap berada dalam shalatnya, meski singa datang mendekatinya.
Bagaimana dengan kita? Selayaknya kita banyak-banyak beristighfar karena pada saat shalat, kita mengingat hal lain. Kita membaca Al Qur’an, tetapi pikiran kita terkadang melayang ke sana kemari. Tubuh kita menghadap kiblat, tetapi jiwa kita berada di tempat yang lain. Lisan kita melafal doa, tetapi hati kita tidak menghayati doa-doa itu.
Lalu bagaimana seandainya ada kucing yang datang mendekat kepada kita? Kucing saja, bukan singa. Terkadang seekor kucing sudah membuat kita salah tingkah dalam shalat. Apalagi singa. Atau yang lebih sering, nyamuk yang menggigit kita saat sedang shalat, membuat kita lebih konsentrasi pada sakit gigitannya daripada tenggelam dalam ayat-ayat yang kita baca.
Mari merenungi shalat kita dari kisah ini. Betapa masih jauhnya kita dari khusyu’ saat shalat. Padahal Allah memfirmankan kecelakaan orang-orang yang lali dari shalatnya. “Wailul lil mushalliin, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun”. Sebagian mufassir menjelaskan bahwa “an shalatihin saahuun” adalah orang-orang yang meninggalkan shalat. Mereka itulah orang-orang yang celaka. Namun, sebagian yang lainnya menjelaskan bahwa “an shalatihim saahuun” adalah mereka yang lalai dalam shalatnya. Mengerjakan shalat, tetapi waktunya ditunda-tunda. Termasuk juga mengerjakan shalat, tetapi hati dan jiwanya tidak ikut shalat. Mengerjakan shalat, tetapi ia tidak khusyu’ dalam shalatnya. Sekedar fisik yang menghadap kiblat dan lisan yang mengucap doa, tetapi hatinya lalai entah ke mana. Na’udzubillah. [Muchlisin BK]

Rabu, 25 Juni 2014

Sukses Menghadapi Ujian Hidup

Allah Mahabaik. Semua yang diciptakan-Nya, selalu diberikan pasangan. Jika ujian adalah salah satu makhluk-Nya, maka sudah barang tentu bahwa Dia telah menyertakan solusinya. Sebagaimana sebuah penyakit, pasti sudah disertakan obatnya oleh Sang Pencipta penyakit. Sehingga, sebagai manusia, kita hanya perlu belajar dan menemukan formula yang tepat untuk semua jenis ujian yang sudah pasti akan ditimpakan kepada kita, hingga ajal menjemput diri.

Pertama, sadari bahwa ujian adalah keniscayaan.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar . (al-Baqarah [2]: 155)

Dengan adanya pemahaman yang baik tentang keniscayaan ujian ini, maka kita bisa bersikap bijak jika suatu ketika ujian itu benar-benar datang menghampiri kehidupan kita yang sedianya damai dan menentramkan.

Kesadaran ini juga akan membuat diri lebih waspada. Semakin sadar untuk mempersiapkan solusi. Juga, rajin menuntut ilmu untuk menyikapi segala kemungkinan ujian yang akan Allah berikan.

Dua, gunakan keimanan sebagai solusi sejati. Rasul pernah berkata, “Sungguh ajaib keberadaan orang beriman. Jika diberi nikmat, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika diberi ujian, dia bersabar, dan itu baik pula baginya.”

Jika perkataan seorang Presiden saja –misalnya- sangat kita hormati dan dipegang teguh sebagai rujukan, maka perkataan seorang nabi jauh lebih layak untuk dirujuk, diingat-ingat dan dijadikan sebagai pedoman hidup. Apalagi, Rasulullah tak pernah sekalipun berbohong. Bahkan, setelah ilmu sedemikian maju, semua perkataan beliau bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya.

Jika kita bersabar terhadap ujian yang diberikan, maka janji Allah sudah sangat pasti kejelasannya,“Mereka (orang-orang sabar) itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah [2]: 157)

Tiga, minta tolong kepada Allah. Ujian yang diberikan, sejatinya adalah sebuah sarana agar kita semakin mendekat pada-Nya. Karena memang, Dialah zat Yang seharusnya kita dekati di sepanjang usia kehidupan kita. Allah yang memberikan ujian, sudah melengkapinya dengan banyak tools pertolongan yang bisa kita gunakan setiap saat, sesering mungkin.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. (al-Baqarah [2]: 153)

Sungguh, tidak ada yang lebih baik dari meminta tolong kepada Allah, dan menjadikan sabar dan shalat sebagai tools agar kita mendapat pertolongan dari-Nya. Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.

Empat, Allah bersama anda. Sabar ketika mendapati ujian bukan bermakna pasif. Tapi aktif mencari solusi dengan berbekal ilmu yang tepat. Sering bertanya kepad ahlinya, membuka semua peluang solusi yang mungkin dan juga menyiapkan opsi-opsi lain jika langkah pertama gagal.

Jika kita berhasil mengeja sabar, maka itulah jalan terbaik yang memang harus kita lalui. Selain itu, sabar membuat pelakunya menjadi salah satu hamba kesayangan Allah. Apakah ada yang lebih baik bagi seorang hamba selain disayangi Sang Pencipta?
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah [2]: 153)

Allah mencintai siapa saja yang sabar. Sehingga, Dia menyertai golongan-golongan itu.

Lima, ilmui setiap laku. Langkah teknis tak boleh ditinggalkan. Karena durian runtuh, sangat jarang adanya. Hujan duit juga menjadi sesuatu yang mustahil jika diri hanya berongkang-kaki di dalam rumah, tanpa melakukan upaya apapun. Sesering mungkin mendekatkan diri kepada Allah itu sangat baik, tapi akan jauh lebih baik jika disertai dengan upaya keras untuk menjemput turunnya pertolongan Allah.

Mengilmui adalah upaya agar ujian menjadi tantangan. Agar prahara menjadi anugrah. Agar kita tak salah langkah. Karena kebodohan adalah pangkal keterjerumusan.

Rajin-rajinlah membaca buku, berdiskusi dengan pakar, sering mengunjungi orang shaleh, jangan malu bertanya, dekati mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidupnya. Banyak berdiskusi dengan orang yang tepat adalah hal-hal yang bisa membuat diri tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kenali diri dengan baik. Fahami kelebihan dan kekurangannya. Karena biasanya, ujian diberikan bersesuaian dengan letak kekurangan seseorang. Dengan mengetahui kekurangan diri, seseorang bisa melakukan tindakan-tindakan antisipatif. Ini juga bisa membuat seseorang menghindari dan menjauhkan segala sebab yang mungkin mengantarkannya pada kesalahan dalam menyikapi ujian yang diberikan.

Misalnya seseorang yang lemah dalam pengelolaan uang. Maka, sebisa mungkin, untuk tidak menerima amanah dari keluarga, organisasi, atau instansi tempat bekerja yang terkait dengan pengelolaan dan pengaturan uang.

Atau, misalnya seorang pemuda yang labil dalam masalah syahwat. Maka, seiring diri menyiapkan untuk mampu menikah, minimalisir setiap penyebab yang mungkin menggoda. Mulai dari menahan pandangan, bergaul dengan orang shaleh, mencari lingkungan yang baik, sibukkan dengan amal shaleh dan hindari ketersendirian. Karena, ketika sendiri, setan akan lebih mudah menggoda.

Enam, anda tidak sendiri. Seringkali, ujian berat terasa begitu menyesakkan. Dalam tahap ini, ketika salah menyikapi, mungkin saja seseorang akan menyalahkan Allah. Bahwa Dia tidak adil, dholim dan sejenisnya. Padahal Allah sangat tidak mungkin memiliki sifat itu semua.

Hal ini pula yang pernah terjadi di zaman Rasulullah. Ketika banyak orang beriman Makkah yang disiksa oleh kafir quraisy. Para sahabat datang kepada Rasul dan berkata, “Dimanakah pertolongan Allah?” Lalu dengan air muka sumringah yang meneduhkan, manusia mulia itu berkata, penuh makna, “Apa yang kita alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan umat terdahulu. Ada diantara mereka yang dikubur hidup-hidup, disiksa dengan ditusuk dari duburnya, disisir menggunakan besi dan dikuliti layaknya hewan sembelihan.”

Menyeksami riwayat ini, pantaskan kita mengatakan, “Allah dimana?” Padahal kita hanya diuji dengan urusan dunia yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (al-Baqarah [2]: 250)[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com 


DVD ANAK SHOLEH FILM EDUKASI ANAK MUSLIM INDONESIAORDER SEKARANG JUGA SELAMA MASA PROMO

Kehidupanku Bersama Lalai

Lalai merupakan kondisi di mana seseorang menunda-nunda kewajibannya, baik yang menyangkut dalam hal dunia maupun akhirat tanpa udzur yang jelas (syar’i). Lalai tersebut bisa dalam bentuk menjalankan aktifitas sehari-hari maupun dalam beribadah kepada Tuhannya. Lalai dengan sengaja sangat merugikan bagi kehidupan seseorang. Tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga bisa merugikan orang lain.

Di saat kelalaian dan kesesatan melanda umat manusia, Allah Subhaanahu wa Ta’ala selalu mengutus seseorang untuk memberi petunjuk kepada mereka supaya kembali ke jalan yang benar mematuhi segalan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (QS. Al-Baqarah: 268).

Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan salah satu utusan-Nya. Yang di dalam hatinya selalu aktif untuk ikut andil dalam berdakwah dan melakukan perubahan kepada umatnya menuju kebaikan. Tidak henti-hentinya beliau berdakwah, walau hambatan dan rintangan selalu menghiasi hidupnya.

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’araa:3).

Bila diperhatikan, banyak diantara kita yang lebih mementingkan kehidupan duniawinya saja. Bekerja dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang mungkin pula ada yang sampai pagi lagi. Sedangkan ibadah dilakukan seadanya saja. Ini merupakan salah satu tindak kelalaian yang melanda umat manusia. Begitu pula bila kehidupan hanya dihiasi dengan beribadah saja, tanpa memerhatikan keadaan sekitar, ini pun juga tidak benar.

Kita harus cerdas dalam membagi waktu. Agar semua ruang lingkup kehidupan dapat diakses dengan baik dan mudah. Kita bisa berpartisipasi menjalani aktifitas maupun berhubungan langsung dengan Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Lalai bisa terjadi bila diri malas dalam mengerjakan sesuatu sehingga setiap pekerjaan yang ada justru selalu menumpuk dan tidak kunjung selesai. Setiap manusia adalah pemimpin, maka dari itu, manusia yang baik adalah bermanfaat kepada sesama dan tidak melalaikan tugas. Bagaimana bisa menjadi seorang pemimpin berkualitas, bila di dalam dirinya masih tersimpan rasa malas dan lalai.

“Bersemangatlah dalam hal-hal yang akan memberikan kemanfaatan kepadamu! Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menyerah. Jika kamu terkena satu musibah janganlah kamu berkata, ‘Jika tadi saya melakukan yang lain, maka akan terjadi hal yang lain pula.’ Akan tetapi, katakanlah,’Semua ini adalah kekuasaan Allah. Apa yang dia kehendaki, Dia kerjakan.’ Sesungguhnya kata ”jika/seandainya”, bisa menjadi pintu masuk setan (untuk menggoda kalian).”

Diantara bentuk ibadah atau ketaatan yang acap kali terlupakan dan tidak mendapat banyak perhatian adalah berpikir dan merenung. Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam menciptakan segala sesuatu tentu tidaklah sia-sia. Untuk itu, sebaiknya manusia mampu berpikir, siapa yang menciptakan, bagaimana ia diciptakan, untuk apa ia diciptakan, dan seterusnya. Berpikir tentang siapa yang menciptakan dan diri sendiri adalah hal yang utama.

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu (susunan tubuh)-mu seimbang dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS: Al-Infithaar:6-8).

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk lain). Maka Mahasucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS: Al-Mu’minuun:12-14).

Jika manusia dapat berpikir kepada hal-hal positif, misalkan tentang alam semesta yang sangat luas, berpikir tentang kematian dan alam akhirat, tentang Al-Qur’an, nilai dunia dan akhirat, nikmat yang telah diberikan Allah subhaanahu wa ta’ala, fenomena alam, kebesaran Allah Yang Maha Esa, hal positif lainnya, maka kelalaian, kesesatan maupun bentuk keburukan lain, bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Perkara ini memang bukanlah hal yang mudah untuk dikendalikan. Terlebih, bila sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang terus saja mengganggu. Tidak dapat dipungkiri, manusia yang memiliki sifat lalai, kurang memiliki kedisiplinan dalam hidup, kurang memahami hakikat tauhid dalam agama dan tidak terjalinnya keharmonisan dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Allah subhaanahu wa ta’ala merahasiakan masa depan setiap manusia, itu menandakan agar kita bisa berprasangka baik, merencanakan yang terbaik, berusaha yang terbaik, dan selalu bersyukur serta bersabar atas apa yang dilakukan dan diraihnya ke depan. Kelalaian dengan tidak melakukan hal yang bermanfaat, bisa mengikis semua impian tersebut. Kerja keras memang dibutuhkan agar bisa mewujudkan hakikat kehidupan yang lebih baik dan.

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian mempunyai ilmu maka gunakanlah secara maksimal ilmu kalian itu. Dan sesungguhnya kalian mempunyai masa akhir, maka berjalanlah menuju akhir masa kalian. Sesungguhnya seorang mukmin berada dalam dua kekhawatiran: Apakah yang diputuskan oleh Allah atas (amal perbuatan yang dilakukan pada) masa yang telah lewat? Dan apakah yang akan ditetapkan oleh Allah kepadanya pada masa yang masih tersisa. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mempersiapkan dirinya dengan berbagai bekal di dunia ini untuk kebaikannya di akhirat nanti. Hendaklah ia menyiapkan diri pada waktu mudanya sebelum datang masa tua dan di saat sedang sehat sebelum datang waktu sakit. Sesungguhnya kalian diciptakan adalah untuk kehidupan akhirat. Adapun dunia diciptakan untuk (keperluan) kalian. Demi Zat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, setelah kematian tidak ada (manfaatnya) orang yang mencela dan seteah kehidupan dunia tidak ada tempat bersinggah, melainkan surga dan neraka. Saya memohon ampun kepada Allah swt. semoga dosa-dosa kita diampuni-Nya.” (HR. al-Baihaqi dalam “Syu’abul-limaan,”Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah dari al-Hasan al-Basri, dan ad-Dailamy dalam al-Firdaus).

Sangat disayangkan, bila ilmu yang kita miliki tidak digunakan dengan baik. Melainkan, diramu dengan kelalaian dan kemaksiatan dengan menghalalkan segala cara Dalam memanajamen waktu, memang tidak mudah, maka dari itu, keutamaan dalam menjalankan hal-hal positif, melalui dengan niat yang tulus ikhlas karena Allah subhaanahu wa ta’ala. Komitmen dalam memperbaiki diri merupakan cerminan akhlak yang baik bagi setiap orang. Untuk bisa menghindari sifat lalai seperti ini, tentulah kita harus teladani Nabi Muhammad shallallahu’alayhi wa salam beserta para sahabatnya. Bagaimana dalam aktifitas dan kehidupan sehari-harinya selalu digunakan untuk beribadah kepada Allah serta menjadi pribadi yang bermanfaat kepada sesame manusia, walau ujian dan cobaan terus menerpa.[]

Penulis: Reza Arghavin
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Forum Lingkar Pena Ciputat

Selasa, 17 Juni 2014

Alhamdulillah, Terungkap Misteri Kakek Dibalik Sampul Buku Iqro

Ada yang masih ingat Buku iqro sewaktu kita kecil, ada cover pengarangnya, siapakah dia? Semoga pahala terus mengalir untuk beliau, karena kita sekarang sudah lancar mengaji. Tahukah siapa beliau? Beliau adalah K.H. As’ad Humam.

Memang tak banyak orang yang mengenal K.H. As’ad Humam. K.H. As’ad Humam lahir pada tahun 1933. Beliau mengalami cacat fisik sejak remaja. Beliau terkena penyakit pengapuran tulang belakang, dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta selama satu setengah tahun. 

Penyakit inilah yang dikemudian hari membuat As’ad Humam tak mampu bergerak secara leluasa sepanjang hidupnya. Hal ini dikarenakan sekujur tubuhnya mengejang dan sulit untuk dibungkukkan. Dalam keseharian, sholatnya pun harus dilakukan dengan duduk lurus, tanpa bisa melakukan posisi ruku’ ataupun sujud. Bahkan untuk menengok pun harus membalikkan seluruh tubuhnya. 

Beliau juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, beliau hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP).

Nama asli dari KH As’ad Humam hanyalah As’ad saja, sedangkan nama Humam yang diletakkan dibelakang adalah nama ayahnya, H Humam Siradj. KH As’ad Humam (alm) tinggal di Kampung Selokraman, Kotagede Yogyakarta. Ia adalah anak kedua dari 7 bersaudara. Darah wiraswasta diwariskan benar oleh orang tua mereka, terbukti tak ada satu pun dari mereka yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. KH Asad Humam sendiri berprofesi sebagai pedagang imitasi di pasar Bringharjo, kawasan Malioboro Yogyakarta. Profesi ini mengantarnya berkenalan dengan KH Dachlan Salim Zarkasyi. Berawal dari silaturahim ini kemudian KH As’ad Humam mengenal metode Qiroati.

Dari Qiroati ini pula kemudian muncul gagasan-gagasan KH As’ad Humam untuk mengembangkannya supaya lebih mempermudah penerimaan metode ini bagi santri yang belajar Al Quran. Mulailah KH As’ad Humam bereksperimen, dan hasilnya kemudian ia catat, dan ia usulkan kepada KH Dachlan Zarkasyi.


Namun gagasan-gagasan tersebut seringkali ditolak oleh KH Dachlan Salim Zarkasyi, terutama untuk dimasukkan dalam Qiroati, karena menurutnya Qiroati adalah inayah dari Allah sehingga tidak perlu ada perubahan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan kedua tokoh ”berkonflik”. Sehingga pada akhirnya muncullah gagasan KH As’ad Humam dan Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta untuk menyusun sendiri dengan pengembangan penggunaan cara cepat belajar membaca Al-Qur’an melalui metode Iqro.

K.H. As’ad Humam telah meninggalkan kita untuk selamanya. Pada awal Februari tahun 1996 dalam usia 63 tahun, beliau dipanggil Allah SWT. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan Ramadhan hari Jum’at (2/2) sekitar Pukul 11:30. Jenazah KH. As’ad Humam dishalatkan di mesjid Baiturahman Selokraman Kota Gede Yogya tempat ia mengabdi. Beliau sangat layak disebut sebagai pahlawan bagi kita semua. Meskipun beliau telah meninggal dunia, ilmu yang beliau wariskan menjadi kebaikan bagi beliau yang terus mengalir menambah kebaikan bagi beliau di sisi Allah. [Jurukunci.net]
****

Kunjungi Blogstore kami lagi banyak DISKON!!! Klik disini untuk berkunjung


Senin, 09 Juni 2014

Pembedahan Dada Nabi SAW


Dalam hadis disebutkan, sebelum Rasulullah SAW melakukan Isra dan Mi’raj, dadanya dibedah. Beliau bersabda, “Kemudian hatiku dikeluarkan, lalu dicuci dengan air zamzam, lalu dikembalikan ke tempatnya, dan diisi dengan keimanan dan hikmah....” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqih Sirah-nya berkomentar, ini melambangkan persiapan yang harus dilakukan sebelum beliau berangkat menjalankan Isra dan Mi’raj. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan, pembedahan dan pencucian hati ini terjadi tiga kali.

Pertama, saat beliau masih kanak-kanak, hidup di kampung dalam asuhan Halimatus Sa’diyah. Kedua, ketika beliau menerima wahyu untuk diangkat menjadi nabi dan rasul. Dan, ketiga saat beliau hendak melakukan Isra dan Mi’raj. (Fathul Bari Juz 11 Bab Mi’raj hal 216)

Tentu peristiwa pembedahan dada dan pencucian hati ini memberikan banyak pelajaran kepada kita. Setidaknya, ada enam pelajaran penting. Pertama, siapa yang ingin naik dan menjadi manusia mulia, hendaknya membersihkan hati.

Persiapan untuk naik dalam rangka menggapai kemulian dan derajat yang tinggi bukanlah berbekal harta, kekuatan raga, atau ilmu pengetahuan. Tapi, yang terpenting adalah kebersihan hati, kebeningan jiwa, dan keluhuran budi.

Harta sering kali membuat manusia lupa. Kekuatan raga sering kali membuat manusia angkara murka. Dan, ilmu pengetahuan sering kali membuat manusia sombong. Harta, kekuatan raga, dan ilmu pengetahuan hanya berguna bila dimiliki orang yang hatinya bersih.

Sudah terbukti, tanpa hati yang baik, harta, rupa, dan ilmu hanya semakin membuat celaka manusia. Kedua, hati mentukan baik buruknya manusia. Mengapa hati yang dibersihkan? Bukan kepala, mata, atau kaki?

Nabi SAW bersabda, “Ketahuilah pada diri manusia itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baiklah sekujur tubuhnya. Dan, bila ia buruk maka buruklah sekujur tubuhnya. Ketahui, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sepanjang sejarah manusia, kehidupan ini selalu terpuruk sesungguhnya bukan karena persoalaan krisis ekonomi. Bukan pula karena rendahnya ilmu pengetahuan. Juga, bukan karena kelemahan fisik. Melainkan, karena rusaknya akhlak dan moralitas manusia.

Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena, sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (al-Hajj: 46).

Ketiga, hati adalah hakikat manusia. Di situlah Allah SWT melihat dan menilai. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak melihat kepada tubuh kamu dan juga rupa kamu. Tetapi, Allah melihat kepada hati dan amal perbuatan kamu.” (HR Muslim).

Keempat, kekuatan hati paling dahsyat. Memang kekuatan harta penting. Kekuatan fisik dan senjata juga penting. Tapi, kekuatan sejati seorang pemimpin dan orang-orang mulia yang membuatnya abadi dan dicintai adalah kekuatan karena kebersihan hatinya.

Kelima, pendidikan hati harus di atas pendidikan intelektual dan jasmani. Isra dan Mi’raj dengan prosesi pembedahan dada dan pencucian hati seharusnya menyadarkan kepada kita bahwa pendidikan hati yang terpenting.

Kita telah salah memuja wajah, ilmu pengetahuan, dan teknologi dengan memarjinalkan bahkan melupakan pendidikan hati. Maka, yang lahir adalah anak-anak bangsa terdidik yang cantik, tampan, dan berderet gelar juga banyak hartanya.

Namun, sayangnya tak memiliki hati. Mereka bukan menebar kebaikan, melainkan membuat onar dan kemaksiatan. Keenam, hati harus selalu bersih dan sehat. Dalam hidup ini harta boleh berkurang, bahkan hilang. Rupa juga pasti berubah dan sirna.

Kesehatan jasmani pasti takkan bisa bertahan. Tak mengapa. Asal hati selalu bersih dan sehat. Karena, hanya hati yang bersih dan sehat itulah yang selamat dan diterima Allah. 

“Di hari kiamat nanti harta dan anak-anak tidak berguna lagi. Kecuali, orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS asy-Syu’ara: 88-89). Wallahu a’lam.

~~ Kami menjual DVD Anak Sholeh, Tontonan Edukasi dan Sejarah Nabi terlengkap untuk anak-anak indonesia. Kunjungi Kami http://iklanbaris100free.blogspot.com/2014/05/buruuuaaan-dvd-anak-sholeh-lagi-diskon.html ~~

Jumat, 16 Mei 2014

Menjadi Hafidz Qur’an Gara-Gara Macet

Apakah mungkin gara-gara macet bisa menjadi Hafidz Qur’an? Jawabannya adalah tentu saja bisa. Bagaimana metodenya? Mari kita kaji bersama!

Fenomena macet adalah hal yang tidak asing bagi mereka yang hidup di kota-kota besar. Pagi, siang, sore, malam macet. Kadang bahkan sampai berjam-jam. Banyak yang menggerutu, ngedumel, bahkan tak jarang kata-kata tidak pantas pun terlontar yang akhirnya berbuah dosa. 

Namun, apa solusi yang pas bagi kita selaku umat muslim?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk orang mu'min saja, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran -yakni yang merupakan bencana- iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (HR Muslim)

Nah dari hadist di atas bagi seorang muslim kemacetan bisa menjadi lahan amal. Salah satunya menghafal Al-Quran dengan cara mendengarkan Murottal Al-Quran. Hal ini tentu saja dapat mengubah waktu yang seakan terhenti karena kemacetan menjadi produktif dan tentunya dapat menyejukkan hati kita sehingga kejenuhan, kelelahan dan kejengkelan ditengah kemacetan bisa terobati, sekaligus mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Saat ini sudah ada Murottal Al Qur’an edisi per halaman dan software Al Qur’an edisi hafalan yang bisa didownload gratis di http://download.pusatalquran.com. Sehingga nanti ketika menghadapi kemacetan bisa diaktifkan di laptop, smartphone atau tape mobil. Asyik kan!.

Mari sebarkan informasi ini, InsyaAllah nanti akan banyak orang berkata ketika macet “Alhamdulillah macet, saatnya menghafal Al Qur’an”. Atau “Alhamdulillah macet, jadi bisa murojaah”.

Begitu banyak kemudahan yang Allah berikan kepada kita sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, semoga kita tergolong orang yang mampu mensyukurinya dengan cara memanfaatkannya untuk kebaikan. []

Penulis : Rully Oktoberyanto

Yahudi Ini Masuk Islam Gara-Gara Baju Besi



Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya melalui berbagai cara yang kadang-kadang terasa aneh dan tidak terduga. Seperti orang yahudi ini. Semula, ia bersikeras bahwa baju besi ini adalah miliknya. Siapa sangka, gara-gara kasus baju besi tersebut, ia kemudian masuk Islam.

Kisah ini terjadi di zaman khulafaur rasyidin ketiga, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Saat itu Ali kehilangan baju besinya. Ia pun mengumumkannya beserta tanda-tandanya.

Suatu ketika, Ali bertemu dengan orang yahudi yang menemukan baju besi itu. Tanda-tandanya persis. Ali yakin itu adalah baju besinya yang jatuh dari unta.

“Baju besi ini adalah milikku,” kata si Yahudi menolak memberikannya kepada Ali. “Baju perang ini milikku karena ia ada di tanganku. Kalau engkau tidak puas, mari kita selesaikan di pengadilan.”

Meskipun Ali adalah khalifah, orang yahudi itu tidak canggung “menantangnya.” Sebab di zaman itu, ketika Islam memimpin dan berkuasa sejak zaman Rasulullah, rakyat dengan bebas berdialog dan menyatakan pendapatnya kepada pemimpinnya. Antara rakyat dan pemimpin , keduanya bisa dengan mudah bertemu tanpa sederet birokrasi. Juga tak ada diskriminasi. Sebenarnya Ali dengan kekuasaannya sebagai khalifah bisa saja langsung memerintahkan tentara untuk mengambil paksa baju besi itu. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia sepakat membawa kasus tersebut ke pengadilan.

Tibalah pengadilan itu dimulai. Hakim Syuraih dari Kufah menangani kasus ini.

Hakim: “Wahai amirul mukminin, apa yang kamu adukan?”

Ali: “Baju besi ini jatuh dari untaku, ia memiliki tanda-tanda begini dan begini. Dan orang Yahudi ini telah menemukannya”

Hakim: “Wahai Yahudi, apa yang kamu katakan?”

Yahudi: “Baju perang ini adalah milikku karena ia ada di tanganku.”

Hakim: “Setelah memeriksa tanda-tandanya, baju besi itu persis seperti yang dikatakan Amirul Mukminin. Namun begitu, engkau perlu mendatangkan dua sakdi ya Amirul Mukminin”

Ali kemudian memanggil seorang tentaranya dan Hasan, putranya sendiri. Merekalah yang akan memberikan kesaksian bahwa baju besi itu adalah milik Ali.

Hakim: “Kesaksian tentara ini diterima. Sedangkan kesaksian Hasan bin Ali tidak bisa diterima.”

Ali: “Wahai hakim, tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Umar bin Khattab bahwa Hasan dan Husein adalah pemimpin pemuda dan penghuni surga?”

Hakim: “Benar, aku mendengarnya.”

Ali: “Lalu mengapa kesaksian pemimpin pemuda penghuni surga tidak diperbolehkan?”

Hakim: “Bukan begitu Amirul Mukminin. Yang menjadi masalah adalah, dia ini anakmu sendiri.”

Mendengar dan menyaksikan jalannya pengadilan ini, hati orang Yahudi terus bergetar. Bagaimana mungkin ada pengadilan seperti ini, bagaimana mungkin ada agama seadil dan seindah ini. Ia pun kemudian menyela, “Wahai Amirul mukminin, ini sebenarnya adalah baju besimu. Ambillah. Aku telah menyaksikan seorang kepala negara yang untuk urusan baju besi saja mau ke pengadilan dan hakimnya yang seorang muslim pun memutuskan dengan sangat adil dan jujur. Ambillah baju besi yang kutemukan saat terjatuh dari untamu ini dan saksikanlah bahwa aku hari ini bersyahadat ‘Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.’” 5 Penyebab dosa Kecil menjadi dosa besar, Na'uzdubillah min dzalik

Subhanallah, pengadilan itu menjadi luapan syukur karena bertambahnya saudara baru dalam Islam dan iman. Meski baju besi itu dikembalikan kepada Ali, Ali justru memberikannya kepada mualaf tersebut. Ali juga memberinya uang tujuh ratus dirham sebagai hadiah. [Disarikan dari Qashashush Shalihin karya Mustafa Murad]

Jumat, 02 Mei 2014

Keagungan Pernikahan Asma' binti Abu Bakar dan Zubair bin Awwam


Mari kembali menyeksamai kisah agung para sahabat Rasulullah Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in. Agar kita tak kehilangan semangat dan teladan dalam kebaikan. Karena kisah yang telah mereka ukir dalam lembaran sejarah dengan tinta emasnya, adalah oase yang tak pernah kering termakan zaman. Kisah mereka akan agung, hingga kiamat menjelang. Sebuah teladan kebaikan yang tak akan pernah usang. Wow,,,,Menghafal Al-Quran itu Ternyata Sangat Mudah

Asma’ binti Abu Bakar adalah salah seorang shahabiyah terbaik. Meski ibu kandungnya (Qatilah) adalah seorang kafir dan mati dalam keadaan belum sempat beriman, ketakwaan Abu Bakar terwarisi dengan sangat baik dalam dirinya. Selain menjadi salah satu pemeran utama dalam tim sukses hijrah Rasulullah ke Madinah, banyak teladan yang bisa kita timba dari pribadi luar biasa ini.

Dari Asma’, kita diberitahu tentang akhlak seorang anak kepada orangtua (ibunya) yang kafir. Dari dirinya, kita juga dapati teladan tentang menutup aurat. Melaluinya, kita diberitahu banyak hal tentang kesungguhan, kedermawanan, kecerdasaan dan ketaatan kepada suaminya.

Asma’ pun berjodoh dengan Zubair bin Awwam. Salah seorang pengawal setia Rasulullah dan masuk dalam sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Meskipun, dia adalah sosok yang miskin harta.

Tentang pernikahannya, Asma’ bertutur, “Ketika Zubair menikahiku, ia tidak memiliki seorang budak atau harta sedikit pun. Ia hanya memiliki seekor kuda.” Mari catat baik-baik. Wanita semulia Asma’ mau dinikahi oleh sahabat miskin tak berharta. Karena kemuliaannya, dia menerima suaminya yang bagus iman dan takwanya. Bukan sekedar jabatan, keturunan atau asesoris duniawi lainnya.

Bersebab tak memilik budak, Asma’ sering melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Pun, yang bisa dilakukan oleh kaum lelaki. Katanya melanjutkan, “Maka akulah yang memberi makan kudanya, memelihara dan menanggung biaya perawatannya, menumbuk biji-bijian sebagai bahan makanannya serta menyiapkan air untuk minumannya.” Cintanya karena Allah, menghasilkan ketaatan dalam kebaikan. Dia menyadari bahwa suaminya sibuk mencari nafkah dan berdakwah. Maka dirawatlah kuda yang dijadikan tunggangan suaminya dalam berjihad. Sifat ini yang menyebabkan iblis terusir dari surga

Ia juga sosok yang piawai dalam menyiapkan makanan bagi suaminya, sesuai dengan kemampuan terbaiknya. Dan tak segan meminta bantuan dari wanita lainnya untuk hal yang tak bisa dikerjakannya. Katanya, “Aku yang membuat adonan roti. Namun, aku tak mahir membuat roti. Maka, beberapa wanita Anshar yang membuatkan roti untukku. Mereka semua adalah wanita yang jujur.” Banggalah jika anda menjadi wanita rumahan yang selalu mempunyai waktu dan antusiasme yang tinggi dalam menyediakan makanan untuk suami tercinta. Sebab masakan istri, adalah masakan berbumbu cinta dan ketulusan. Sehingga enak di mulut, sehat di badan, dan menambah ikatan cinta antara dia dan suaminya.

Yang lebih mencengangkan, Asma’ sering membawa biji-bijian hasil kebun suaminya yang merupakan pemberian Rasulullah. Hingga suatu ketika, bersebab bertemu dengan rombongan Rasulullah sepulangnya dari kebun, Asma’ mendapat kemuliaan dengan didudukkan di atas unta Nabi mulia itu.

Biasanya, Asma’ membawa biji-bijian dari kebun suaminya dengan berjalan kaki. Biji-bijian itu diletakkannya di atas kepala. Jarak antara kebun dan rumahnya sejauh dua pertiga farsakh. Satu farsakh setara dengan 3 mil. Sedangkan 3 mil setara dengan 1,6 kilometer. Sehingga, jarak yang ditempuh oleh Asma’ ketika membawa biji-bijian hasil kebun suaminya, setara dengan 3 kilometer lebih.

Begitulah pernikahan yang menyejarah. Tak ada gemerlap lampu pesta atau tamu undangan yang buka-bukaan aurat di dalamnya. Dasarnya cinta karena Allah, niatnya karena-Nya, yang ditempuh adalah jalan Nabi-Nya. Maka dari pernikahan barokah itu, lahirlah Abdullah bin Zubair yang kelak menjadi salah satu khalifah kebanggaan Islam.[]

Download Artikel Islami Versi PDF (Gratis)

Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 18 April 2014 versi PDF disini
Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 25 April 2014 versi PDF disini
Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 2 Mei 2014 versi PDF disini
Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) 9 Mei 2014 versi PDF disini

Rabu, 16 April 2014

KISAH INSPIRASI ISLAM BERSEDEKAH DIKALA SULIT

Suatu hari Ali bin Abi Thalib mendapati kedua anaknya, Hasan dan Husain, sakit. Bahkan kedua cucu Baginda Rasulullah SAW itu mengalami sakit yang cukup lama sehingga Ali pun bernazar, “Jika Hasan dan Husain sembuh, aku akan berpuasa selama tiga hari”. Rupanya Allah mendengar nazar Ali tersebut hingga Hasan dan Husain pun sembuh.

Ali bin Abi Thalib bersama isterinya, Fatimah Az Zahra, pun berpuasa. Menjelang tiba waktu berbuka di hari pertama, hanya tersedia dua potong roti untuk makanan berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, belum lagi keduanya menyantap roti tersebut, datang seorang fakir miskin yang mengetuk pintu mereka seraya meminta makanan lantaran perutnya belum terisi sejak beberapa hari. Urunglah Ali dan Fatimah melahap roti yang sudah digenggamnya, mereka pun meneruskan berpuasa hingga keesokan harinya. Hidup cuma sementara, hiduplah yang berguna bagi semua orang.

Di hari kedua berpuasa, mereka pun hanya memiliki sepotong roti untuk dimakan berdua pada waktu berbuka nanti. Seperti halnya hari kemarin, tiba saatnya berbuka, pintu pun kembali terdengar diketuk seseorang. Rupanya seorang anak yatim yang meminta makanan karena kelaparan. Tak kuasa menahan iba, Ali pun memberikan sepotong roti itu kepada anak yatim itu. Keduanya kembali berpuasa.

Ujian memang selalu diberikan Allah kepada orang seperti Ali dan Fatimah. Bahkan di hari ketiga berpuasa pun, sepotong roti yang mereka punya pada saat menjelang berbuka ikhlas mereka berikan kepada seorang tawanan yang baru saja bebas namun tak mempunyai makanan. Ali, Fatimah, dan kedua anaknya, Hasan dan Husain mengerti bahwa semua ini hanyalah ujian kesabaran dari Allah. Cari tau arti kehidupan dan tujuan kita hidup di dunia ini.

Sebuah pelajaran yang teramat mengharukan dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang penyabar. Betapa Allah tengah menguji mereka, akankah mereka tetap beriman dan mau menyedekahkan rezeki milik mereka kepada orang lain, meskipun mereka teramat membutuhkan. Bahkan kisah yang teramat indah ini Allah lukiskan dalam Al-Quran Surat Al-Insaan (76): 8-10, agar menjadi pelajaran bagi kebanyakan manusia.

Memberi di saat berlebih adalah hal mudah, meski tidak semua orang melakukannya. Tetapi memberi di saat kita membutuhkan, hanyalah orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah di surga kelak yang sanggup melakukannya. Butuh perjuangan, keikhlasan dan kesabaran untuk meniru apa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya. Tentu saja kita bisa, jika kita mau.

“... barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia berbuat kebaikan...” (QS. Al-Kahfi:110).

Silahkan Kirim artikel anda agar dimuat di buletin TUUBA yang terbit setiap jum'at. Ayo sebarkan kebaikan melalui goresan tangan kita. Kirim pesan ke sini http://goo.gl/mDc8Cd

Silahkan Download Buletin Tuntas Buta Aksara Al-Qur'an (Tuuba) Versi PDF disini